Nirmana pada dasarnya adalah komposisi unsur-unsur/elemen
seni rupa dan desain yang terdiri dari bentuk, raut, ukuran, arah, tekstur,
warna, value, dan ruang. Untuk keperluan itu dibutuhkan pengetahuan tentang
bagaimana cara melakukan penyusunan-penataan-pengomposisian unsur-unsur tersebut
demi menciptakan karya yang memiliki nilai seni atau dikenal dengan metode/prinsip dasar seni rupa dan desain.
Tulisan berseri ini bermaksud mengupas prinsip-prinsip dasar seni rupa
dan desain yang disarikan dari buku Nirmana,
Elemen-Elemen Seni dan Desain (2010) karya Sadjiman Ebdi Sanyoto. Untuk
lebih detailnya silakan kamu membaca sendiri buku tersebut.
Untuk tulisan kali ini saya fokus pada prinsip irama. Perhatikan betapa tulisan ini mungkin menjadi yang paling lengkap dan komprehensif dibandingkan web-web/blog-blog di luar sana yang memajang prinsip seni rupa dan desain secara setengah matang, akibat terlalu asal comot alias doyan copy/paste, dan kebanyakan pasang iklan. So enjoy!
Dalam bukunya, Pak Sadjiman menyebut ada tujuh
prinsip kunci, yaitu keselaran/irama/ritme,
kesatuan (unity), dominasi/pusat perhatian, keseimbangan,
keserasian/proporsi/perbandingan, kesederhanaa, dan kejelasan.
Sebenarnya
ada lebih banyak lagi prinsip dalam seni rupa dan desain, namun ketujuhnya telah
mencakup prinsip-prinsip yang lain seperti harmoni dan kontras.
Prinsip-prinsip ini bukanlah aturan baku yang
seluruhnya harus ada dalam sebuah karya. Demikian pula dalam satu karya seni
rupa/desain amat jarang yang hanya menerapkan satu prinsip saja, karena sangat
mungkin terdapat lebih dari satu prinsip di dalamnya dan antar prinsip
sebenarnya saling berkaitan satu sama lain. Bagaimana pun karya seni bergerak
pada rasa dan kebebasan tanpa ada belenggu yang menghambat kreativitas.
1.
Prinsip
Keselarasan/Irama/Ritme (Rhythm)
Istilah irama lumrah dijumpai pada seni tari dan
musik. Ia hadir melalui hitungan dan tempo yang menunjukkan adanya aliran/alunan
gerakan/rekaman yang berulang, kompak, ritmis, dan serempak. Kita dapat dengan mudah
mencermati hitungan dan tempo tersebut karena adanya unsur waktu.
 |
Tarian Seribu Tangan yang menunjukkan irama |
Berbeda dengan seni tari dan musik, dalam seni rupa
dan desain tidak terdapat unsur waktu. Yang ada hanya perubahan unsur-unsur
seni rupa dan desain dengan gerak semu yang mengesankan/memberi ilusi seolah
ada gerakan.
Boleh jadi memang seni tari dan musik mempunyai keunggulan unsur
waktu, namun tanpa didokumentasikan (baik foto maupun video), unsur geraknya
hanya akan bersisa dalam ingatan. Sementara irama dalam seni rupa dan desain
akan terus ada begitu ia diwujudkan pada karya.
Irama dapat diartikan sebagai gerak yang teratur/berkala dan mengalir atau gerak pengulangan yang
ajeg dan terus-menerus. Dalam
seni rupa dan desain keberkalaannya meliputi unsur-unsur seperti misalnya, keberkalaan
ukuran (besar-kecil, tinggi-rendah, panjang-pendek), keberkalaan arah
(vertikal-horisontal-diagonal), keberkalaan warna (panas-dingin,
cemerlang-suram), keberkalaan tekstur (kasar-halus, kasar-licin, keras-lunak),
keberkalaan gerak (atas-bawah, kanan-kiri, muka-belakang), dan keberkalaan
jarak (renggang-rapat, lebar-sempit).
Keberkalaan
bisa dipahami sebagai kesamaan-kesamaan (repetisi), perubahan-perubahan
(transisi), maupun pertentangan (oposisi).
Setiap bentuk yang digunakan lebih dari satu kali
dalam suatu susunan baru dapat dikatakan sebagai bentuk yang berulang (jika
hanya satu ia jelas tidak masuk dalam pengulangan). Setiap pengulangan
memperlihatkan kesan keselarasan. Maka itu prinsip irama disebut juga
keselarasan, sebagaimana ketukan irama dalam musik.
Prinsip irama sebenarnya cukup rumit. Itu sebabnya
banyak seniman dan desainer kurang mendalaminya. Padahal irama selain bisa
diamati pada tarian dan musik juga hadir di alam sekitar. Mulai dari kawanan
burung yang terbang, hamparan pegunungan, pohon dan dedaunan, bunga, ombak
laut, loreng pada kulit harimau atau zebra, hingga rumah siput. Semuanya dapat
dijadikan inspirasi dalam menerapkan irama dalam karya seni dan desain.
 |
Bunga dengan gerak semu ke arah tengah |
Setiap
pengulangan menunjukkan adanya gerak semu/imajinatif.
Gerak semu ini mempunyai fungsi (1) membimbing mata pengamat ke arah tertentu.
Dari contoh gambar bunga di atas, mata kita seolah di bawa ke arah tengah. (2)
irama membantu prinsip kesatuan (unity)
agar susunan objek tidak terkesan buyar. (3) irama membantu melahirkan ruang
kosong/sela (white space) sehingga
susunan terasa longgar dan tidak sesak.
Untuk memudahkan mencapai keselarasan/irama dalam
karya kita perlu menggunakan interval tangga rupa yang tak lain
adalah alat dasar tata rupa. Terdiri dari 7 tingkatan, ia meminjam tangga nada
(not) dari seni musik 1.2.3.4.5.6.7 (do,re,mi,fa,si,la,si)
karena ukurannya lebih jelas untuk mengukur harmoni irama. Berikut contoh
interval tangga rupa untuk sejumlah unsur seni rupa dan desain.
 |
Interval Tangga raut garis |
 |
Interval Tangga Bidang |
 |
Interval Tangga Ukuran |
 |
Interval Tangga Arah |
 |
Interval Tangga kedudukan |
 |
Interval Tangga warna |
Ada tiga pendekatan yang bisa diambil dari penerapan
interval tangga rupa pada prinsip irama/keselarasan, yaitu repetisi, transisi, dan oposisi.
Dua yang disebut terakhir ini mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan.
Repetisi
adalah hubungan pengulangan dengan kesamaan
ekstrim atas semua unsur-unsur seni rupa dan desain yang digunakan.
Repetisi merupakan keajegan pengulangan dengan kesamaan. Kesan yang timbul dari
susunan repetisi di antaranya: rapi, tenang, resmi, beriwibawa, kaku, statis,
monoton.
Repetisi adalah
komposisi paling sederhana dan paling mudah, karena hanya mengandung satu
perubahan saja, yaitu kedudukan. Makin banyak suatu bentuk diulang, makin jelas
arah gerak semunya, dan makin memungkinkan membentuk gerak yang mengalir dan
ritmis. Interval tangga rupa yang yang digunakan hanya satu interval saja. Entah nomor 1 saja, atau nomor 5 saja,
atau nomor yang lain.
Meski begitu repetisi melibatkan keteraturan ketat dari
segi arah gerak semu tersebut (horisontal, vertikal, atau diagonal). Jika
arahnya horisontal maka susunan gerak semu berikutnya juga horisontal secara
sejajar dengan susunan pertama. Lihat contoh di bawah untuk memahaminya.
 |
Gambaar a dan b sudah terdapat pengulangan tapi masih kaku, gambar c dan d terdapat pengulangan (repetisi) |
Contoh irama repetisi lain yang bisa ditemui secara
mudah di kehidupan nyata adalah pada susunan ubin lantai/konblok/paving, tembok
batu bata, sejumlah motif kain batik, motif karpet, hingga susunan jendela di
gedung pemerintahan, dll.
Transisi
adalah
hubungan pengulangan dengan perubahan-perubahan
dekat atau variasi-variasi dekat atau peralihan-peralihan dekat pada satu
atau beberapa unsur seni rupa dan desain secara teratur dan runtut. Transisi merupakan
keajegan pengulangan dengan perubahan yang menghasilkan kerharmonisan (harmoni),
lembut, dan enak dilihat.
Harmoni adalah suatu kombinasi dari unit-unit yang memiliki kemiripan dalam
satu atau beberapa hal. Kemiripan artinya keberaturan pengulangannya tidak
ketat, tetapi tetap mengesankan keteraturan unsur-unsur yang tidak jauh
berbeda/berdekatan.
Contoh transisi yang bisa ditemui di alam sekitar adalah
daun-daunan dari satu pohon. Daun-daun ini tidak ada yang sama persis, baik
bentuk, tekstur, warna, maupun ukurannya, namun memiliki kemiripan.
Jika pada repetisi perubahan
hanya pada arah yang lurus dengan kedudukan horisontal, vertikal, dan diagonal,
maka dalam transisi perubahan kedudukannya bergerak melengkung dan berombak, atau
dengan kata lain arah gerak semunya melengkung.
Ini bisa diraih dengan
menerapkan bentuk raut interval tangga rupa nomor-nomor yang berdekatan,
misalnya nomor 1 (do) dan 2 (re), nomor 4 (fa) dan 5 (sol), atau nomor 2 (re), 3
(mi), dan 4 (fa), dst. Untuk memahaminya lihat kembali Gambar Interval Tangga Rupa sebelumnya.
 |
Transisi dengan interval 2,3,4 |
 |
Transisi bidang, warna, dan arah |
 |
Transisi ukuran dan arah |
 |
Transisi ukuran, arah, warna, kedudukan, gerak |
Oposisi
adalah
hubungan pengulangan ekstrim dengan
perbedaan atau kekontrasan atau pertentangan atas satu atau beberapa unsur
seni rupa dan desain. Oposisi merupakan keajegan pengulangan dengan
kekontrasan/pertentangan yang mengalir penuh vitalitas.
Kontras memberi
penekanan yang menghidupkan, memberi greget, menggigit, dan memberi gairah yang
dinamis pada karya seni rupa/desain.
Terdapat dua jenis kontras, yaitu kontras ekstrim dan discord
(berselisih).
Kontras ekstrim adalah kontras yang masih memiliki hubungan,
misalnya ukuran besar-kecil, jarak jauh-dekat, arah vertikal-horisontal, value
gelap-terang, tekstur halus-kasar, dst. Sementara discord adalah oposisi yang kontradiktif/tidak ada hubungannya.
Misalnya: raut segi empat dengan lingkaran dan warna merah dengan warna hijau
(warna yang berkomplemen).
Susunan dua jenis oposisi ini bisa dibuat menjadi
irama yang harmoni dengan cara: (1) pengulangan-pengulangan terhadap kontras
tersebut dan (2) memberi penjembatanan terhadap kontras lewat interval tangga
raut alias gradasi, agar perubahan tidak terasa anjlok atau terlalu jauh
perbedaannya.
(1) Pengulangan kontras dilakukan agar susunan
oposisi tidak berkesan keras. Misalnya, susunan kontras ekstrim antara raut balok
yang berukuran besar-kecil, yang jika hanya terdiri dari satu pasang saja maka akan
terasa kaku dan keras.
Untuk itu dilakukan pengulangan agar kesan itu lenyap.
Begitu juga dengan pasangan kontras discord
antara raut persegi warna hijau dan lingkaran warna merah, yang dapat dibuat
berirama dengan cara pengulangan.
 |
Oposisi ekstrim besar-kecil (nirmana trimatra) |
 |
Kontras discord raut dan warna |
Sayangnya pengulangan ini menghasilkan komposisi
yang berkesan monoton, maka itu pengulangan kontras oposisi juga mempunyai
hubungan dengan prinsip dominasi
karena mengandung perbedaan antar unsur (kekontrasan).
Salah satu cara agar
susunan tidak berkesan monoton dan lebih ritmis adalah dengan membuat salah
satu bentuk raut berjumlah lebih banyak, sementara raut lainnya hanya satu saja.
 |
Kontras ekstrim, bentuk yang besar satu saja, sisanya lebih banyak |
 |
Kontras discord, dengan membuat salah satu raut berjumlah lebih banyak |
(2) Selanjutnya ada gradasi yang merupakan perubahan
berangsur-angsur secara teratur antara dua kontras (baik ekstrim maupun discord).
Gradasi adalah hubungan
kontras yang dijembatani oleh sederet keharmonisan. Di sinilah oposisi mempunyai
hubungan dengan transisi yang sudah dibahas sebelumnya. Semakin banyak
gradasinya, kesan yang ditimbulkan akan terasa halus dan lembut, semakin
sedikit gradasinya, susunan akan terasa kasar dan keras. Gradasi bisa lebih
atau kurang dari interval tangga rupa yang hanya 7 tingkatan.
 |
Discord dengan gradasi dari persegi ke lingkaran, hijau ke merah, besar ke kecil |
 |
Oposisi besar-kecil lewat gradasi (sumber markas3d.blogspot.com) |
 |
Oposisi warna dengan gradasi (sumber: carajuki,com) |
Sekedar mengingat kembali, irama diperoleh dari
pengulangan yang membentuk garis/gerak semu. Terdapat tiga pendekatan irama,
yaitu repetisi yang merupakan pengulangan dan sejajar, transisi yang merupakan
pengulangan perubahan dekat, dan oposisi (ekstrim dan discord) yang merupakan pengulangan yang saling bertentangan, di
mana masing-masing mempunyai ciri khas dan perannya dalam membangun irama pada
karya seni rupa/desain.
Bersambung ke prinsip Kesatuan (unity).
0 komentar:
Posting Komentar