Catatan Selama Masa Pandemi Coronavirus Maret 2020

19.15.00 jino jiwan 0 Comments


Ketika mulai terdengar gaung virus Korona Baru ini di China (atau Tiongkok?) sekira pertengahan Januari 2020 aku tidak pernah menganggapnya betul-betul sebagai ancaman serius. Bahkan tidak di saat WNI dari Wuhan dipulangkan ke Tanah Air pakai pesawat Batik Air. Aku masih nyantai aja. Di saat ada gelombang ke-parno-an orang-orang yang cemas jika harus naik Batik Air. Aku mengentengkan dengan bilang, gak mungkin virus hidup tanpa host di benda mati macam kursi pesawat. Juga di kala orang-orang panik membeli hand sanitizer dan masker dari apotek. Tapi semua berubah sampai ia merebak di Iran, di mana ada video seseorang yang diduga terkena penyakit akibat virus ini (yang kemudian disebut covid-19) terkapar di jalanan umum. Ini serius saudara-saudara!

Gerbang masuk ke kampung rumah kosan yang sudah dipasangi spanduk covid-19

Meski begitu aku cukup kesal dengan kawan satu kantor yang terkesan meremehkannya. Entah dengan niatan bercanda atau tidak (terutama karena dia ini orang yang selalu serius dan sekali bercanda sama sekali jayus). Dia bilang “justru kita harus minta supaya kebagian juga. Kita ini gak boleh terlalu mencintai dunia.”

“Excuse me, but what the fuck?!”

Rasa-rasanya aku pengen gitu menapuk congor belagu bin songongnya itu. Ini gak ada hubungannya dengan cinta dunia atau takut mati. Tapi soal bagaimana cara kamu mati agar tidak ikut bikin susah orang di sekitarmu, Cuk! Kalo kamu mati ya gak apa-apa tapi jangan bikin orang lain susah dan gak usah sok kayak paling gak cinta dunia.

Dan kalo kamu menebak bahwa dia ini termasuk orang kategori gelombang Islamisasi baru. Maka jawabannya adalah IYA. Selain kerap berceramah ke aku soal betapa orang-orang belakangan lebih cinta dunia, dia juga masuk golongan anti-vaksin, tidak percaya pendaratan manusia di bulan, dan mungkin juga percaya bumi datar (yang ini unconfimed).

Lagian aneh, wong punya anak dan istri, kok malah pengen mati. Justru kalo punya anak dan istri ya pengen hidup terus untuk mencukupi kebutuhan mereka, pengen melihat mereka bahagia, pengen lihat anak-anak tumbuh besar lalu menikah. Itu kan namanya gak tanggung jawab, mau lari dari kenyataan biar langsung dapat surga. Hidup ini anugerah yang harus dimanfaatkan untuk beribadah dan satu-satunya cara beribadah (ibadah sendiri ada pelbagai jenis) adalah dengan tetap hidup. Jadi yang kalo pengen tetap hidup tidak lantas sama dengan takut mati dan cinta dunia. Heran deh, suka kesel sama orang yang membelah dunia dan akhirat seolah keduanya adalah hal yang terpisah jauh dan gak ada hubungannya.

Ahh sudahlah, kembali ke Novel Coronavirus alias SARS-CoV-2. Sejak diumumkan kasus positif pertama di indonesia awal Maret 2020, jumlahnya terus menanjak. Dalam sebulan sudah langsung 1200-an orang. Dan awal April sudah tembus 2000 orang dengan 190 orang meninggal. Dampaknya perkuliahan di kampus tempat aku mengajar di Bojonegoro jadi ikutan tersendat tanpa kejelasan. Tatap muka ditiadakan, tugas dan kuliah diberikan via online.

Kegiatan orang-orang yang masih rajin ke kampus: mengecat

Kuliah online juga tidak mudah. Mahasiswa terkendala paket data yang tidak bisa dibilang murah apalagi kalo dipaksain kuliah via video conference (misalnya pake zoom.us). Mereka ini aja sudah kesulitan membayar SPP, makanya menurutku gak bijak jika diwajibkan. Akibatnya hingga aku mengetik tulisan ini, kuliah lewat konferensi video baru kulakukan sekali, itupun hanya 3 orang mahasiswa yang bisa berpartisipasi. Sehingga kuliah aku berikan via grup WA dan Google Classroom.

Media sosial (terutama grup WA) pun juga media massa arus utama (terutama Detik dan Tirto) turut berperan memperburuk peredaran informasi soal Covid-19. Masing-masing kayak ngerasa paling penting dan benar. Mengomentari sikap politisi, rame mendorong lockdown kayak ngerti konsekuensinya terhadap perekonomian. Belum lockdown aja sudah payah seperti ini situasinya. Setiap kampung (termasuk dusunku di Jogja) berupaya mengisolasi diri, bikin portal, bikin spanduk lockdown, cermin dari kecemasan buah dari buramnya informasi, informasi yang saling bertabrakan dan bersilangan.
Suasana depan dusun Bulus Lor saat "lockdown"

Soal masker
yang awalnya beredar bahwa“Yang pake masker hanya yang sakit dan hanya tenaga medis.” Btw, sekarang disebut nakes, singkatan tenaga kesehatan. Tapi kemudian beredar informasi resmi dari CDC (badan pencegah penyebaran penyakit-nya Amerika Serikat) yang merekomendasikan supaya orang yang terlihat sehat juga perlu pakai masker karena orang yang sudah terkena coronavirus ini tidak menunjukkan gejala.

Selanjutnya soal coronavirus yang tidak tahan cuaca panas, sehingga orang disarankan berjemur minimal 10 menit di atas jam 10 pagi sampai jam 3 sore. Informasi yang terlanjur dipercaya oleh masyarakat, pemilik warung langgangan jadi ikutan sering jemur kasur. Informasi ini disebar oleh media massa besar (Kedaulatan Rakyat) tapi lalu dibantah oleh Detik, yang bilang bahwa belum tentu virus mati karena cuaca panas. Kita belum tahu apa-apa soal coronavirus ini. Ah shit.

Suasana ketika ada penyemprotan karbol di kampus

Soal jelang bulan puasa dan Lebaran juga tak jauh dari runyam. Kereta Api Indonesia membatalkan jadwal perjalanan dari kota-kota besar, Jakarta dan Surabaya ke arah Jogja dan Solo. Tapi kemudian pemerintah bilang tidak akan melarang warganya mudik ke kampung halaman, asal tetap isolasi mandiri 14 hari, tapi tetap menyarankan supaya orang tidak mudik, tapi ya itu tadi, gak akan dilarang. Membingungkan? Sebetulnya tidak karena yang dilakukan pemerintah macam reverse psychology. Silakan pulang, tapi gak ada kendaraan favoritmu (yaitu kereta), dan kamu harus mengurung diri begitu sampai sana. Sucks!

Sholat Jumat mulai ditiadakan di masjid “resmi” Muhammadiyah di Bojonegoro. Tapi toh tetap ada sholat fardhu berjamaah, jadi sebenarnya sama aja. Mbok sekalian jumatan, dhuhurnya juga gak dikasih jarak antar jamaah. Di Kabupaten Bojonegoro sendiri memang jumlah pasien positif Covid-19 sementara ini (semoga seterusnya) masih 0 (nol). Ada yang meninggal sih tapi statusnya masih PDP, ODP-nya ada tapi gak banyak. Mereka adalah orang-orang yang baru datang dari Bali, entah berwisata atau kerja.
Nah, kalo ini adalah analisis yang melampaui kenyataan dari seseorang yang kukurimi foto makan malamku. Aslinya itu bukan oseng tempe tapi keong, itu bukan sayap goreng tapi tempe goreng.

Aku juga mulai kesulitan cari makanan. Warung makan favorit ikutan tutup. Sebagai seorang perantau yang masih ngekos ini cukup merepotkan. Yang ada hanya warung langganan dekat kos yang menunya seadanya banget, manut si ibunya masak apa ya itu menunya. Untung aku juga orangnya gak rewel soal makanan, adanya apa ya itu yang kumakan. Mungkin ini salah satu keunggulanku kalo mau survive melewati pandemi coronavirus ini.

Ya Allah aku mohon agar pandemi ini segera berakhir.

0 komentar: