Asal Usul Banyumambu

18.21.00 Jino Jiwan 4 Comments

Konon pada zaman ketika dinosaurus masih hidup, kali-kali di daerah (yang sekarang dikenal dengan nama) Jakarta tidaklah se-mambu seperti saat ini. Setidaknya tidak mambu-mambu banget. Itu terbukti dengan temuan penelitian terbaru Prof. Paleojavanicus bahwa di fosil usus dinosaurus (spesies: Entahlahsaurus) yang ditemukan di daerah Kalimantan tidak terdapat residu air mambu kali Jakarta. Karena itulah mambunya kali-kali Jakarta hingga saat ini masih menjadi misteri yang membuat bingung para ahli (atau yang merasa dirinya ahli).

Berdasarkan penelusuran ngawur yang dilakukan oleh seorang jurnalis sesat yang menerapkan metode etnoacakkadut terungkaplah cerita sebab musabab mambunya kali Jakarta. Kisah ini dituturkan kepadaku sebagaimana penuturan Si Jurnalis Mletho ditemani secangkir kopi panas di sebuah kantin kampus terkenal. Kisah ini  tentu sudah mengalami pemblasukan seperlunya sesuai kaidah yang diakui olehku sendiri. Oh, dan aku sudah sediakan kamus atau daftar kata-kata rumit dalam ketikan ini. Selamat Menyiksadiri.

...
Pada tahun sebelum ada tahun, terdapatlah sebuah kerajaan bernama Banyupetak. Kerajaan ini wilayahnya luas sekali belum lagi istananya yang berhektar-hektar lebarnya, lebih luaslah daripada sawah plus rumahmu apalagi kamar kosmu yang apek itu. Dan sama seperti kisah negeri dongeng lain, rakyat kerajaan ini ceritanya hidup sejahtera gemah ripah loh di Jawi, dan tentu saja serba nrima apa adanya.


Peta kuno kerajaan Banyupetak (hijau), daerah yang kuning adalah istana raja
Seperti nama kerajaannya, sang raja bernama Raja Banyupetak. Dia adalah raja yang bijak lagi sana sekaligus narsis (menurutku) karena menamai kerajaan sesuai namanya sendiri. Raja Banyupetak beristrikan seorang ratu yang termasyur kecantikan dan kemolekannya pada masanya bernama Banyuputih. Ratu Banyuputih tingginya kira-kira lebih tinggi sedikit dari Si Jurnalis Mletho, kulitnya sebetulnya tidak secerah namanya, tapi bolehlah jika kau bayangkan dia seperti Raisa, kata Si Jurnalis. Aku sendiri tidak membayangkan Ratu Banyuputih sebagai Raisa, aku membayangkan dia seperti artis porno favoritku atau...favoritmu juga bisalah atau siapa saja terserah kepadamu. Jika kau bayangkan dia seperti dosenmu yang paling hot juga sakarepmu.

Dikisahkan, hingga tahun ketujuh perkawinan mereka belum juga diberi keturunan. Andai ketika itu Sang Raja mau kawin dengan putri-putri kerajaan lain mungkin dia sudah beroleh calon-calon putera mahkota, tapi Sang Raja tetap setia dengan satu istri saja. Setidaknya yang diakui. Mereka sudah mencoba berbagai cara, berbagai posisi, dan berbagai lokasi tapi hasilnya tetap nihil.

Suatu hari Raja Banyupetak hendak melupakan masalah ini dengan berburu. Kegemarannya memang berburu dinosaurus. Ketika dia tengah mempersiapkan diri untuk berburu, Si Jurnalis menampakkan batangnya (mungkin hidung mungkin yang ‘lain’nya) maka diapun diajak ikut bersama rombongan berburu. Mereka mengendarai makhluk semacam salamander sebesar kuda, kata Si Jurnalis. Aku bertanya apakah makhluk itu sejenis trenggiling? Si Jurnalis Mletho malah bertanya balik trenggiling itu apaan? Karena malas menjelaskan aku biarkan dia melanjutkan ceritanya.

Untuk lebih mudahnya mari kita anggap saja mereka saat itu sudah berbicara dengan bahasa Indonesia yang fasih meski belum dengan tata bahasa baku, kata si jurnalis. Aku setuju saja. Kata dia bahasa yang digunakan di masa itu sangat sukar binti sulit. Butuh waktu tahunan dan teknik khusus untuk menguasainya sebagaimana dia lakukan. Bahasa Banyu begitu mereka menyebutnya. Rombongan pun berangkat menuju Hutan Larangan (karena namanya selalu begitu, kata Si Jurnalis). Di Hutan Larangan segenap makhluk bersemayam, termasuk para dinosaurus paling mengerikan yang pernah ada.

“Hai Jur,” Sang Raja memanggil Si Jurnalis, “aku ingin kau melihat aku berburu dinosaurus.”

“Dinosaurus yang macam mana Tuanku?” tanya Si Jurnalis.

“Dinosaurus satu ini amat lihai karena dia bisa terbang dan menyelam sekaligus. Bentuknya ganjil lagi aneh.” Raja menghentikan kudanya, eh...salamandernya. Dia turun dan merentangkan busur dengan mata panah setajam silet dan mengarahkannya ke leher Si Jurnalis.

Si Jurnalis bingung dengan tindakan Raja. “Merunduk!!!” Teriak Raja.

Begitu Si Jurnalis merunduk seketika itu juga anak panah melesat dan mengenai seekor dinosaurus di atas pohon. Dinosaurus itu bergedabrukan kemudian berkebyuran ke kali di dekatnya. Rombongan pemburu segera mendatangi dinosaurus yang telah jatuh ke air itu. Setelah diangkat dari air oleh para prajurit kelas coro tampaklah seekor dinosaurus yang tidak jelas bentuknya, antara katak, cacing, dan gajah.

Tiga makhluk ini perlu melakukan "Fusion" seperti Trunks dan Goten di DBZ
untuk melihat ujud dinosaurus yang dimaksud
“Apa nama dinosaurus macam ini Rajaku?” tanya si Jurnalis.

“Entahlah...” Jawab Raja termangu, “tapi sepertinya dagingnya tak enak di makan. Lempar kembali ke air!”

Para prajurit kelas coro itu pun mendorong bangkai dinosaurus malang, membiarkannya jadi santapan ikan.

Sore harinya rombongan pemburu itu pulang.

...
Waktu pun berlompatan. Suatu hari Raja Banyupetak bergembiraria, rupanya Ratu tengah mengandung. Akhirnya berhasil juga. Tiap hari Sang Raja mengelus-elus perut ratunya yang makin membesar dan membesar (bayangkan Raisa hamil, Bung! Betapa seksinya). Hingga tanpa terasa tiba bulan-nya melahirkan. Sang Raja gelisah menanti anak pertamanya dan cemas akan keselamatan Sang Ratu.

Anak yang dilahirkan Ratu Banyuputih ternyata bukan berbentuk umumnya manusia. Dia masih berujud...bayi tentu saja. Tapi bayinya lebih mirip seekor dinosaurus yang tidak jelas antara katak, cacing, dan gajah, entahlah..., yang pasti ini membuat Raja Banyupetak murka dan malu.

“Dinda, kau tega nian selingkuh dengan dinosaurus yang entahlah namanya itu.” Sentak Raja saat menimang bayi itu, “kalau mau selingkuh mbokyao setidaknya sama Si Jur sekalian yang masih manusia, jadi aku punya alasan untuk memenggal lehernya.” Suaranya bergetar.

“Kanda, tega nian menuduhku berbuat seperti itu...” Isak Ratu Banyuputih. “Aku akan menerjunkan diri ke kali di depan istana bersama bayi ini.” Sang Ratu merebut bayi entahlah itu ke pelukannya.

Ratu lalu melanjutkan, “...jika aku memang selingkuh dengan dinosaurus yang entahlah itu maka banyu kali itu akan mambu. Tapi jika aku tidak selingkuh dengannya dan Kandalah yang kuwalat dengan si dinosaurus maka kali itu akan mambu.” Si Ratu berlari ke arah kali depan istana tanpa memberi kesempatan Raja untuk bereaksi. Tepat sebelum Sang Ratu menceburkan diri ke kali saat itu juga dia menyadari kesalahucapannya, tapi semua terlambat. Langit telah mendengar dan menggelegar. Sumpah telah dijatuhkan.

Semenjak itulah kali-kali di daerah (yang sekarang disebut) Jakarta jadi mambu.

...
Sewaktu kutanyakan bukti foto atau video kepada Si Jurnalis Mletho, dengan raut runyam dia langsung menyiramkan kopi panas dari cangkirnya ke arahku...tapi tidak kena, aku menghindar dengan sigap. Air kopi itu meluncur menodai rok seorang gadis yang naasnya kebetulan lewat. Jika ini adalah naskah FTV aku berani jamin Rp. 100 juta itu cewek pada akhirnya akan jatuh rindu ke pelukan si Jurnalis Mletho, tapi kenyataannya si gadis mendaratkan stiletonya ke jidat si Jurnalis Mletho. Kenaasan berpindah, akibatnya jurnalis kita kontal menabrak tembok sehingga cerita “Asal Usul Banyumambu” tidak rampung. Jadi ini adalah kesalahanku ketika separuh dari cerita di atas sebenarnya adalah hasil karanganku sendiri. Kuharap engkau tidak menyesali keputusanmu untuk membaca ketikan ini hingga rampung karena engkau tidak mendapat faedah apapun apalagi pesan moral yang berarti dari cerita ini.

Daftar kata yang sangat rumit:
Bahasa Banyu: adalah bahasa nasional kerajaan Banyupetak. Disebut begitu karena cara penduduk kerajaan ini bicara mirip seperti orang yang berbicara dalam air

Entahlahsaurus: adalah spesies dinosaurus temuan Prof. Paleojavanicus, seorang paleontologiawanistis yang terkenal di kalangan keluarganya sendiri. Entahlahsaurus diduga adalah dinosaurus berjenis antara karnivora dan herbivora yang hidup di masa...lalu. Fosilnya yang tersisa adalah usus sepanjang 2 meter. Ujud pasti Entahlahsaurus tidak diketahui hingga saat ini, tapi Prof. Paleo cukup yakin bahwa bentuknya mirip belut dan hidup di tiga tempat: pepohonan, udara, dan air

Etnoacakkadut: adalah metode yang diturunkan dari bukan-disiplin antroponari.  Metodenya adalah dengan cara menaiki mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, ikut hidup bersama orang-orang masa itu, bertapa, belajar olah kanuragan, lalu kawin dengan orang di masa itu lalu menjadi kakek moyang untuk dirinya sendiri

Mambu: artinya sama dengan angin perut yang keluar dari perut dan kamu nikmati sendiri

Mblasuk: adalah seperti melemparkan diri ke pohon salak sambil telanjang bulat

MenyiksaDiri: adalah tidak bekerja tapi ikut kuliah mahal, tiap hari baca buku seberat 5 kuintal, jarang mandi jarang tidur sering melek, dan cuma bisa main game Solitaire, Zuma, dan Feeding Frenzy

Mletho: adalah seperti separuh otaknya yang ngetik ketikan ini dan seluruh otaknya yang selesai membaca ketikan ini

Rumit: adalah seperti hidupmu atau seperti ketikan ini yang dibaca secara serius seperti hidupmu yang selalu serius

(Jino Jiwan)

4 komentar:

Abdul Hair mengatakan...

Apiiikkkkk!

Dimas Probo Pamungkas mengatakan...

Huahahahaha humor segar apik banget

ilmiislami mengatakan...

wkwkwkwkwkwk tulisanmu mas... kocakkkk! :))))

Bebas Ngetik mengatakan...

Nuwun nuwun nuwun, tapi ini bukan "tulisan" ini adalah...ketikan.