Merapi 5 Tahun Lalu

03.03.00 Jino Jiwan 0 Comments

Dua kali warga Jogja dikejutkan. Tahun 2006 oleh gempa bumi dari arah selatan dan tahun 2010 oleh letusan gunung Merapi dari arah utara. Jogja yang nampaknya damai-damai saja dan selama ini selalu dijual seperti itu nyatanya dikepung oleh kuasa alam yang lebih dahsyat dari kemampuan manusia. Padahal yang namanya bencana alam datangnya tidak pernah ujug-ujug. Bencana alam selalu berulang dan terus berulang dalam rentang waktu tertentu. Mungkin biar manusia tidak meremehkan apa yang sekilas kelihatan jinak. Mungkin biar manusia tidak melupakan, bagaimana dulu mereka bisa tetap hidup dan ada hingga hari ini salah satu di antaranya karena sudah melewati hal yang sama, bencana yang sama.


Berikut adalah catatan harianku dari tahun 2010 selama masa-masa krisis Merapi yang kuketik ulang (dengan singkat) buat sekedar pengingat paling tidak buatku pribadi. Rumah keluargaku yang terhitung berada dalam jarak tidak aman di sebuah dusun di tepi kali yang berhulu di Merapi memaksa keluargaku mengungsi selama belasan hari. Tahun 2010 adalah tahun yang padat peristiwa. Musim hujan Oktober 2010 mengalirkan kemuraman, sepakbola Indonesia tengah menghadapi dua liga (LPI dan LSI), Jakarta sibuk dengan banjirnya, Mentawai diterjang tsunami, dan aku baru setahun di ISI Yogyakarta (yang sedang dies natalis) menjalani status sebagai mahasiswa dengan tanggungan tugas yang gila-gilaan.

25 Oktober 2010 (Senin)
Sore itu aku nggarap kerjaan kelompok Sosiologi Desain “Gaya Hidup Guru” di kosan Tjep. Yang kerja hanya aku dan Yanto yang ternyata berbakat membual dengan banjiran kata-kata yang dia ketik secara semena-mena (aku bilang dia pasti dapat 9 untuk pelajaran Bahasa Indonesia, mungkin itu sebab dia akan memilih jalur skripsi untuk lulus dari ISI), sementara Tjep dan Kelik cuma setor muka dan tidur.

Mas Tardai, office assitant tempat aku dulu kerja di KF ngirim sms kabar-kabaran. Dia bilang banjir Jakarta memang sekronis di tivi, kantor baru kembali merayakan ultah Pak Bos dengan traktiran Bakmi GM, dan Mbak Sus, sekretaris kantor akan menikah Desember nanti. Wah, selamat!

Sampai rumah aku baru tahu dari Bapak situasi terbaru Merapi yang sekarang berstatus “AWAS.” That means it’s about to explode. Tadi siang kata Bapak, di Pakem berjubelan awak-awak tivi nasional: Indosiar, Trans, TvOne, Metro, dll...Mereka berlomba cari berita, kurasa dengan sedikit berharap sesuatu yang buruk terjadi. Supaya bisa menjadi yang pertama menyiarkan berita (yang buruk). Btw, Metro Tv menayangkan berita bahwa Merapi kali ini mungkin akan meletus secara eksplosif alias tidak hanya melelerkan lahar dan wedhus gembel. Aku tidak yakin dengan berita ini. Setahuku Merapi bukan tipe gunung yang eksplosif. Merapi punya tipe letusan yang spesial, setidaknya itu kata para ahli pergunungan.

26 Oktober 2010 (Selasa)
Sore tadi Merapi meletus. Itu letusan pertama sejak 2006. Berita di tivi bilang letusannya terjadi jam 5 sore sebanyak tiga kali. Seluruh tivi berbarengan menayangkan Merapi. Berita di tivi tetap mengatakan bahwa itu adalah letusan eksplosif, meski kepala BPPTK meragukan kemungkinan itu. Tayangan memperlihatkan abu gunung bertebaran di jaket dan rambut reporter dan juga di motor/mobil yang lalu lalang di jalan Kaliurang.

Ibu cemas banget,bahkan ngajak ngungsi ke Bude Rin (kakak kandung Ibu yang tinggal di Godean). Apalagi Bapak belum pulang dari berburu sapi (untuk Idul Adha) di Magelang bareng Ustad Wid. Telepon ke nomor Bapak dan sebaliknya berkali-kali putus. Langit dipenuhi tidak saja oleh abu gunung tapi sambungan telepon yang bersilangan. Semua orang pasti panik ingin tahu kabar keluarganya.

Malamnya TvOne merilis foto letusan yang diklaim sebagai foto amatir diambil jam 16.55! Aneh, sore tadi gelap. Hujan rintik-rintik dan cukup deras di Jakal. Siang tadi pas pulang dari kampus Merapi cuma kelihatan sedikit di sisi timur bawah (dekat Plawangan). Dari mana TvOne dapat foto itu?

Dan, di mana Mbah Maridjan? Tadi pagi aku masih nonton wajahnya yang tidak mau disorot kamera Trans7. Tetangga Mbah Maridjan yang juga anak buahnya di kirim ke RS Ghrasia gara-gara kena wedhus gembel dengan luka bakar 75 %.

Erupsi 2010 menyisakan rekahan besar. Foto diambil 1 bulan kemudian (29 November 2010)
29 Oktober 2010 (Jumat)
Empat hari Merapi meletus kini giliran Krakatau, Slamet, dan Papandayan ikutan menggeliat berkegiatan. Merapi kerap disebut sebagai panglimanya gunung di Jawa. Kalau dia meradang yang lain ikutan juga. Pujian yang berlebihan dan tidak layak dibanggakan.

Ibu bilang kalau bukan orang baik gak akan orang mati bisa dalam posisi sujud. Iya, yang kumaksud adalah Mbah Maridjan yang ditemukan meninggal dalam posisi sujud (sekalipun di kamar mandi). Dia jadi korban pada erupsi pertama Selasa lalu bersama 35 orang lainnya. Rumor yang beredar mengenai dia selamat berakhir sudah.  Berita menunjukkan Kinahrejo luluh lantak. Sejauh mata hanya pemandangan abu-abu dengan debu vulkanik dimana-mana.

Aku tidak ambil peduli soal kemana arah hadap sujud dan di mana jasad Mbah Maridjan ditemukan. Mati dalam keadaan sujud itu tidak mungkin terjadi kalau tubuh orang itu diterjang awan panas. Lihat saja foto-foto korban Merapi lain. Mereka tampaknya mati dengan penuh rasa sakit. Dengan begitu hanya ada satu penjelasan masuk akal kenapa jasad Mbah Maridjan bisa dalam sikap sujud. Itu karena dia sudah meninggal duluan sebelum awan panasnya lewat.  

Yang kudengar Mbah Maridjan kesal dengan wartawan yang suka lebay. Makanya dia menolak diambil gambarnya. Dia juga menolak mengungsi di saat terakhir karena mengaku Merapi adalah rumahnya apapun yang terjadi. Mbah Maridjan sudah meminta warga mengungsi tapi ternyata banyak yang terlambat bereaksi karena yakin Merapi tidak akan mengamuk seperti 2006 lalu saat Kinahrejo baik-baik saja. Besar kemungkinan karena 2006 inilah dia jadi lebih dipercaya sebagai “orang ampuh” oleh warga sekitar. Maridjan tidak turun berarti tidak apa-apa. Makanya petang tanggal 26 itu ada saja yang tidak mengungsi biarpun suara gemuruh terdengar dan bau belerang tajam tercium.

Omong-omong tentang erupsi 2006, ketika itu korbannya ‘hanya’ 2 orang yang salah langkah karena bersembunyi dalam bunker. Bunker yang aneh pula karena tidak berfungsi menahan awan panas. Tahun itu Mbah Maridjan juga menolak mengungsi. Konon dia pernah mengatakan bahwa yang nyuruh itu bukan raja sungguhan. Lalu muncul kata-kata: “sopo sik wani karo Maridjan, sultan wae kalah.” Gara-gara tindakannya Mbah Maridjan malah jadi populer dan ke-roso-annya dipopulerkan iklan KubuBima. Menurut Doni Kesuma (bintang iklan KukuBima) Mbah Maridjan orangnya pendiam, santun, dan sulit diajak turun gunung. Aku sempat salah menyangka Mbah Maridjan kepedean dengan lolosnya dia dari erupsi 2006. Dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan, setia kepada sultan (HB IX) dan tugas yang diembankan. Kinahrejo memang rumahnya dan mungkin itu adalah kematian yang dia inginkan, mati di rumahnya.

banjir lahar dingin
Banjir lahar dingin di kali Boyong dekat dusun tempatku tinggal yang jadi tontonan.
...
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang membingungkan, antara rasa cemas dan rasa yakin bahwa Merapi tidak akan memburuk.

0 komentar: