Sebelum Iblis Menjemput Versi Ringkas

Di sebuah villa kuno RAY SAHETAPY duduk tepekur merenungkan nasibnya. Keuangannya tengah seret. Tapi itu tidak menghalanginya menampilkan kedalaman emosi hanya lewat ekspresi wajah minim dialog. Mungkin dia sedang galau mengapa sepanjang sisa durasi dia hanya boleh berakting tidur oleh SUTRADARA TIMO TJAHJANTO.

Tiba-tiba speaker bioskop digedor oleh Sutradara Timo.

Ray bangkit, buru-buru membukakan pintu. Dia terkesiap, penonton apalagi. Kita melihat “Si Ibu Pengabdi Setan KW3” berdiri di ambang pintu.

Ray Sahetapy : “Ib..Ibu? ….Ibu sudah bisa..”

Ibu Pengabdi Setan KW3: “Shhh…, saya bukan Ibu… panggil saja saya MAWARNI.

Mawarni masuk ke villa, mondar-mandir sebentar sebelum turun ruang bawah tanah.

Ray Sahetapy: “Ah ya, tentu saja. Tidak pernah ada sebelumnya film horor yang menampilkan ruang bawah tanah…”

Mawarni kemudian menaburkan serbuk kapur di lantai untuk menggambar…seperti sudah kamu duga, PENTAGRAM!, sambil merapal mantra yang didapat secara random oleh Sutradara Timo dari kamus bahasa latin koleksinya.

Lalu Iblis pun muncul atau…merasuk ke dalam Mawarni atau Iblis yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mawarni melayang satu meter dari lantai. Sejurus kemudian ribuan lembar seratus ribuan lawas berterbangan. Ray kelimpungan memungutinya.

Mawarni: “Ray Sahetapy, kamu bisa kayAAA rayAAA… tapi kamu harus menyediakan tumbAAAALLL.” (membuka mulut selebar kepala bayi).

Ray Sahetapy : “AstagAAA, mulutmu lebar betul.” 

Mawarni: “Ini belum seberapAAAAA… nanti kamu akan lihat lebih banyak mulut mengangAAAAA…HA HAHAHAAA…” (tertawa jahat tipikal antagonis).

gambar ini mungkin lebih menghantuimu daripada filmnya


Bertahun-tahun-tahun berikutnya. Ray Sahetapy menjadi pengusaha sukses dan tajir berat, dia menikah lagi dengan seorang artis bernama Karina Suwandi dan bercerai dari istri pertamanya, tapi kemudian jatuh bangkrut dan menderita sakit misterius. Kita tahu ini semua dari eksposisi berupa montase KLIPING KORAN. Ingat ya. Ini akan jadi poin penting.

CHELSEA ISLAN putri pertama Ray dari istri pertama datang ke rumah sakit menjenguk ayahnya yang terbaring koma di bangsal kelas 3.

Chelsea Islan: (berbisik) “Pak, Bapak sakit apa sih? Itu bentol-bentol di kulit kok kayak dibuat dari tepung kanji dan sagu mutiara?”

Tiba-tiba KARINA SUWANDI yang kita kenal lewat sinetron (komedi?) Warkop DKI 1990-an menendang pintu tanpa bisa menyembunyikan raut tipikal antagonis yang menunjukkan bahwa dia… adalah si antagonis?

Karina Suwandi: “Cih! Chelsea, kenapa juga namamu Chelsea? Itu kan nama klub bola.” (mendelik lalu meludahi seorang suster).

PEVITA PEARCE:“Iya, ngapain kamu di sini? Cuh!” (mengetapel cecak di dinding dengan karet gelang lalu menindihnya dengan kaki meja).

SAMO RAFAEL: “Mama udah deh, kamu juga Pev. Kita semua kan bersaudara. Ya kan? …Aku ini anaknya Ray Sahetapy juga kan? Haah?” (garuk-garuk kepala).

Pevita Pearce: “Eniwei, Chelsea. Biaya perawatan bapakmu ini tinggi sekali. Jadi kami mau menjual villa kuno yang sertifikatnya masih atas namamu.”

Chelsea Islan: “Kalau itu tidak cukup menunjukkan bahwa kalian orang jahatnya entah apa lagi.”

Malamnya, Chelsea Islan mimpi bertemu Ibu Mawarni (masih ingat kan?). Saat dia bangun dari mimpi buruk, di luar dugaan Ray Sahetapy jump scare dari komanya lalu MEMUNTAHKAN DARAH karena…ini filmnya Timo dan kita belum melihat darah dari tadi. Sutradara Timo pun memukul-mukul panci masak dengan gembira sembari bersembunyi di kolong dipan rumah sakit.



Besoknya Chelsea Islan memutuskan untuk mendatangi villa kuno nan angker, tempat yang sering dikunjungi Ray Sahetapy sebelum jatuh sakit. Karena… formula film horor memang mengharuskan begitu jadi kenapa tidak?

Maka berangkatlah dia menumpangi bus sejauh 66 km, ojek 6,6 km, dan berjalan kaki menembus hutan sejauh 6 km. Sorenya Chelsea sampai juga di villa bernomor 666.

Chelsea masuk lalu menekan saklar, dan LAMPU PUN MENYALA. Sungguh kebetulan! Villa yang sudah lama terbengkalai masih dialiri listrik! Mari berharap listrik ini akan berguna terhadap plot cerita. Bukan sekedar trik menakut-nakuti lewat ajep-ajep lampu nantinya…

Tiba-tiba Karina Suwandi dan anak-anaknya mendobrak pintu depan villa.

Karina Suwandi: “Ada Chelsea di sini rupanya.” (menyeringai dengan sudut mulut nyaris mencapai telinga). “Saya harap kamu tidak keberatan, kami mau…enggg…menginventarisir benda-benda yang ada di sini…demi biaya perawatan bapakmu.” (menangkapi lalat lalu menusukinya dengan jarum pentul).

Chelsea Islan: “Gak usah keliatan banget jahatnya napa sih? Ini tuh film, bukan sinetron. Dasar artis gadungan!”

Merasa disindir Karina Suwandi bangkit lalu MENGGAMPAR PIPI Chelsea. Chelsea sesenggukan menghambur ke bekas kamarnya yang anehnya perabotnya masih utuh setelah sekian tahun. Dia tengkurap di kasur bak remaja tengah putus cinta.

Samo Rafael kemudian mendatangi kamar Chelsea, membawakan dua tangkup sandwich.

Samo Rafael: “Maafin mamaku ya. Nih, makan dulu. Bisa jadi ini satu-satunya yang kita makan untuk 3 HARI KE DEPAN.”

Serius. Mereka cuma makan ini buat 3 hari(!)


Chelsea Islan: (mengambil sandwich dan mulai makan) “Jadi kamu love interestku?”

Samo Rafael: “Hei, kita ini saudara satu bapak! Gimana sih?”

Chelsea Islan : “Oh, shit.” (tepok jidat) “Kenapa tidak dijelaskan?”

Samo Rafael: “Kamu kan perempuan, harusnya pandai membaca kode.”

Chelsea Islan: “Omong-omong soal kode, tadi di lantai 2 aku lihat ceceran darah, kepala kambing terpenggal, dan sobekan kulit dan daging. Entah itu penting atau tidak…”

typical reference to demonic activity

Samo Rafael: “OOHHH… BIASA ITU. Kan sekarang masa-masa Hari Raya Korban…baidewey, tadi mama nyuruh aku MEMBONGKAR PINTU ke RUANG BAWAH TANAH yang  pintunya dibeton, disegel, digerendel, digembok, dan ditempeli jimat yang biasa untuk membekukan vampir di film-film hongkong 80-an…”

jimat sakti anti vampir...eh iblis

Chelsea Islan: “Hmm…biasanya karakter idiot dalam film horor sih matinya cepet…”

Samo Rafael: “Bicara soal idiot, bapak kita lebih idiot. Dia main pesugihan dengan iblis.”

Chelsea Islan: “Tapi bapak masih hidup, biarpun dia sempat muntah darah sampai 3 galon.”

Mawarni: “Haha, TIDAK LAGI! Kalian telah membebaskan aku dari ruang bawah tanah dan baru saja aku pergi ke rumah sakit untuk menggorok leher Ray lalu balik lagi ke sini. MATI KALIAN SEMUA!”

Mawarni menarik Karina Suwandi masuk ke ruang bawah tanah. Sutradara Timo menggebrak-gebrak meja dan lantai. Situasi kalang kabut tak karuan. Karina berusaha berpegangan pada gawangan pintu, tapi Timo memutuskan menyulap jemari Karina menjadi bubur kertas, darah pun menyembur. Samo, Chelsea, dan oh, Pevita berusaha menolong tapi sia-sia. Karina pun berubah menjadi…ZOMBIE!

ZOMBIE KARINA menerjang mereka semua dengan ganas. Karena sudah belajar bagaimana membasmi zombie dari puluhan film Hollywood, Chelsea MENGHAJAR JIDAT Zombie Karina dengan sebongkah MARTIL dan seharusnya meninggalkan trauma di mata anak-anak Karina tapi nyatanya tidak. Zombie Karina lalu kabur dari villa setelah menggigit tangan Pevita Pearce.

Pevita Pearce: “Oh, tidak. Aku terinfeksi virus zombie. Cepat tembak kepalaku!”

Samo Rafael: “Tenang Pev, Mama bukan zombie. Itu cuma obsesi gak kesampaian Sutradara Timo yang gagal terus bikin film zombie.”

Chelsea Islan: “Di sini gak ada obat-obatan. Tapi 60 km dari sini ada rumah penduduk. Biar aku antar Pevita ke sana, sekarang juga, malam-malam begini, di tengah badai hujan, tanpa payung dan mantol. Kita gak bisa pakai mobil kalian karena mesinnya dirusak Zombie Karina, jadi kita jalan kaki.”

Samo Rafael: “Ide bagus! Biar aku duduk manis di sini nunggu di villa.”

Pevita Pearce: “Kamu gak cuma nunggu di villa, kamu nemenin adik kecil kita.”

Hadijah Shahab: “ehm ehm”

Samo Rafael: “Oh shit, kita masih punya adik lagi?”

Chelsea Islan: “Keluarga besar yang aneh.”



Berbekal sebilah senter dan sebongkah martil, Chelsea dan Pevita meninggalkan villa, namun belum berapa jauh Zombie Karina berkelebat. Mereka, tidak seperti karakter dalam cerita horor pada umumnya, memutuskan ini saat yang tepat untuk BERPENCAR!

Entah bagaimana Pevita merasa itu adalah saat yang tepat untuk membongkar isi tas Chelsea yang berisi… ALBUM KLIPING KORAN tentang keluarga mereka. Ingat montase kliping koran di awal? Pembuatnya ternyata adalah Si Chelsea. Ini membuat Pevita marah dan curiga atas motivasi Chelsea sebenarnya.

Pevita Pearce: “Jadi selama ini kamu memata-matai kami!?”

Chelsea Islan: “Bukan…, itu cuma…Pe’er-ku waktu masih SD.”

Pevita melesat ke tengah hutan. Bukannya memberitahu kedua adiknya yang ada di villa soal album kliping korannya Chelsea…dia ingin menyampaikan ini lebih dulu kepada ibunya yang…sudah berubah jadi zombie (hah?). Dia diterkam oleh Zombie Karina.

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “MamAAA…ini aku MAAA!”

Zombie Karina: “ACCCKKKK….!!!!”

Pevita Pearce: “Well, Shit”

Pevita terpaksa mengayunkan martil berkali-kali ke apalagi jika bukan jidat lebar Zombie Karina. Darah muncrat-muncrat dan Sutradara Timo dengan sengaja mengulurkan wajahnya agar kecipratan darahnya Zombie Karina.

Zombie Karina: “Kenapa pula Sutradara Timo seperti membenci jidatku…ACCKK?”

Zombie Karina pun tutup usia dengan laknatnya seperti dia menutup mulutnya, namun tiba-tiba Mawarni muncul di hadapan Pevita.

Mawarni: “PevitAAA…jadilAAAHH…budaaAAAKKUU…”

Pevita Pearce: “Oke, tapi aku tidak mau kalau disuruh mangap mangap.”

Mawarni: “Tidak bisAAAA harus mangAAAPPP…”

Pevita Pearce: “Oh, baikLAAAAHHH…” (membuka mulut selebarnya)



Sementara itu Chelsea kembali ke dalam villa.

Chelsea Islan: “Samo, Si Pevita lari ke hutan setelah melihat album kliping koranku ini.”

Samo Rafael: “Oh…OKE.”

Chelsea Islan: “Kamu gak marah dan takut?”

Samo Rafael: “Enggak, tadi aku ngeliat kepala mamaku dibacok pake martil, santai aja.”

Hadijah Shahab: “Tadi aku tidur sendirian dan diganggu sama jump scare Mawarni.” (dicuekin keduanya)

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai pagi.”

Pagi pun datang.

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai malam.”

Malam pun datang.

tunggulah...lumayan buat manjangin durasi

Chelsea Islan: “Sekarang apa yang kita lakukan?”

Samo Rafael: “Kita tunggu sampai…plotnya jalan.”

Pevita Pearce: “KejutaAAAANN.” (tiba-tiba muncul dari sudut kamera)

Chelsea Islan: “Jelas kejutan karena kamu butuh sehari semalam cuma untuk balik ke sini.”

Pevita Pearce: “Diam, aku adalah abdinya Mawarni. Aku punya boneka voodoo yang mewakili kalian semua.” (mengeluarkan boneka voodoo yang bentuknya mirip Samo Rafael)

Pevita kemudian menarik kepala boneka Samo hingga putus.

Samo Rafael: “Ohh, tidak tidak. Aku adalah satu-satunya laki-laki tersisa di film in…” (lehernya tercabut dari pundak!).

Sembilan galon darah kehitaman mengocor dari leher Samo.

Sutradara Timo: “Sorry, warna darahnya agak gelap. Sisa dari film Headshot belum habis. Hahaha.”

Pevita Pearce: “Sekarang giliranmu Chelsea, tapi…tidak secepat itu. Aku akan menyiksamu lebih dulu, dimulai dari memuntir kakimu pelan-pelan.” (memelintir kaki boneka voodoo  Chelsea ke arah belakang).

Kaki Chelsea Islan-pun terpelintir ke belakang. Sehingga dia jadi cacat permanen.

Pecita Pearce: “Hmm, apalagi ya? Oh iya! Kita lanjutkan dengan ngobrol dari jarak dekat, supaya kamu dapat kesempatan mencuri boneka voodoo yang mewakili diriku yang kubawa-bawa ini, bukannya ku amankan di suatu tempat. Ayo silakan ambil.”

Chelsea Islan: “Makasih Lol!” (merenggut boneka voodoonya Pevita dan langsung memelintir lehernya)

Pevita Pierced: “Ah iya, karakter idiot bakal cepet mat…” (tewas dengan leher patah)

Chelsea Islan merangkak meraih boneka voodoonya. Dia memuntir balik kaki boneka voodoonya yang sebelumnya patah sehingga sekarang kakinya baik-baik saja, karena begitulah cara kerja tubuh manusia.

Chelsea tersenyum lega tapi, sudah berakhirkah film ini? BELUM! Mawarni muncul di depannya.

Mawarni: “HAHAHA, masih ada aku!!!”

Chelsea Islan: “Astaga kamu lagi?”

Mawarni: “Apa kamu tidak baca review film ini yang bilang bahwa teror terjadi tanpa jeda? Matilah kau!”

Tanah yang dipijak Chelsea runtuh membentuk liang lahat, menguburnya hidup-hidup. Namun Chelsea lantas meloncat ke MESIN WAKTU menuju ke MASA LALU dan melihat penjelasan yang sesungguhnya atas segala jump scare non sense yang menerpa penonton sejak permulaan.

Kita kembali ke adegan di kala Ray Sahetapy memunguti uang pesugihan pemberian Mawarni.
Mawarni: “Ingat Ray, kalau mau kaya sediakan tumbal…yaitu orang terdekatmu!”

Ray Sahetapy: “Orang TERDEKATKU saat ini adalah KAMU. Kalau begitu kamulah tumbalnya!!!” (Ray mengayunkan sekop ke kepala Mawarni, Mawarni ambruk) “Weh, semudah itu ternyata mengalahkan utusan iblis.”

Mawarni tewas, namun dia sempat menjatuhkan kutukan kematian kepada Ray Sahetapy dan keluarganya dengan memakan sejumput RAMBUT RAY. Ray kemudian mengubur Mawarni di ruang bahwa tanah lalu menyegel pintunya. Chelsea lalu meloncat kembali ke masa kini.

Chelsea Islan: “Apa penonton tidak akan diberi penjelasan, apa yang barusan kualami tadi? Apa aku punya kekuatan super yang bisa melihat masa lalu. Enggak?”

Sutradara Timo: “Lakukan saja apa yang ada di skrip.” (menuding sekop)

Chelsea kemudian menggali tanah di ruang bawah tanah dan menemukan mayat Mawarni. Dia merobek leher mayat itu, menemukan rambut Ray yang membawa kutukan, dan secara intuitif membakarnya, seolah tahu bahwa begitulah cara membatalkan kutukan. Secara mengejutkan cara ini berhasil. Mawarni pun lenyap.

Chelsea dengan sok tertatih keluar dari ruang bawah tanah. Hadijah Shahab menyambutnya.

Chelsea Islan: “Loh, kamu masih hidup. Dari mana aja tadi?”

Hadijah Shahab: …

Chelsea Islan: “Kamu yakin mau pergi bareng orang yang membelah kepala ibumu dan sudah membunuh kakakmu, saudara tiriku sendiri?”

Hadijah Shahab: (angkat bahu seolah mengatakan “whatever”)

Chelsea Islan: (angkat bahu juga tanda minta pendapat penonton)

Matahari bersinar, mereka berdua keluar dari villa. Lampu bioskop menyala, penonton keluar dari teater…sambil berusaha mengingat-ingat kira-kira apa yang layak diingat dari film ini? Apa ya? (hmm…mikir).

Zaappp, pindah tempat dalam sekejab ke masa lalu dan meminta diri sendiri supaya tidak nonton ini film.


Bentuk Komik dan Perlintasannya

Anda pernah membaca komik? Saya yakin kita semua pernah membacanya setidaknya sekali seumur hidup. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah anda suka membacanya, atau justru tidak? Jika tidak, mengapa? Jika suka, komik apa yang disukai? Apa yang membuat anda menyukainya? Gambar, cerita, tokohnya?

Pertanyaan di atas bukan bermaksud melugukan diri. Pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan pembuka yang ke depannya saya harap akan memicu lebih banyak pertanyaan untuk diri kita sendiri.







Dalam DKV, komik adalah medium komunikasi visual paling lengkap. Begitulah guru saya Pak Asnar Zacky pernah berujar. Pada komik kita jumpai elemen-elemen dasar DKV: garis, bentuk, ruang yang dipelajari di Desain Elementer; huruf (Tipografi); dan gambar (Ilustrasi). Tapi hal-hal teknis ini sama pentingnya dengan bentuk-bentuk komik dan proses dialogisnya terhadap wacana lainnya. Kita perlu melihat betapa luwes dan lenturnya bentuk komik hingga menjadi komik yang kita kenal sekarang.

Berdasarkan bentuknya komik digolongkan menjadi lima (Maharsi, 2011): komik strip (komik strip bersambung dan kartun komik), buku komik, novel grafis, komik kompilasi, dan komik online (web comic).

Komik Strip


Komik ini terdiri dari beberapa panel saja (3-4 panel) dan biasanya hadir di surat kabar atau majalah. Salah satu komik strip paling populer di Indonesia adalah Panji Koming di Kompas terbitan Minggu. Maharsi memang membedakan lagi antara strip bersambung dangan kartun.

Mengenai “kartun” McCloud (2002) menegaskan perbedaannya dengan “komik.” Sementara komik adalah medium, kartun merupakan pendekatan gaya gambar, yaitu yang kita kenal sebagai non-realis. Sebuah abstraksi/penyederhanaan dari kenyataan yang berfokus pada detail mendasar yang lantas menguatkan makna di mana yang nyata tidak mampu melakukannya. Kita bisa melihat diri kita sendiri ada pada yang-kartun. Ada kesadaran akan identitas diri yang universal ketika kita menyimak kartun.

Karena ikatan identitas manusia itu, kartun menjadi senjata untuk bersuara, berpendapat, dan kritik. Gaya kartun membuatnya dapat di-isi oleh pembaca. Pembaca dapat ikut mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh di dalam Panji Koming, mengambil posisi yang sama (atau berseberangan?) dengan komik Panji Koming. Kartun yang tampilannya sederhana tidak lagi menjadi lucu (atau justru lucu dalam bingkai miris?), ia menjadi…istilahnya relatable.

Buku Komik

Komik ini terbit dalam bentuk buku yang bukan bagian dari media cetak lain. Kemasannya menyerupai majalah yang terbit secara rutin. Di Amerika Serikat, buku komik mulai populer 1930-an bersamaan dengan komik Superman tahun 1938. Era 1930-1960an ini kemudian disebut The Golden Age Of Comic Books.



Begitu pesatnya industri komik tumbuh di Amerika sehingga timbul reaksi balik dari masyarakatnya sendiri yang menuduhnya sebagai penyebar kebodohan, menurunkan minat baca, dan pelenyap nilai-nilai moral yang ditimbulkan komik dengan tema kriminalitas, horor, penggunaan obat terlarang, dan seks bebas. Terutama sesudah Fredric Wertham menerbitkan The Seduction of Innocent yang berisi kritik dan tuduhan terhadap komik.

Sebagai bentuk ‘tanggung jawab’ terhadap masyarakat, industri komik Amerika lantas membuahkan Comics Code Authority (CCA) atau dikenal Comics Code yang bertujuan menyensor komik dengan konten tertentu. Komik yang lulus sensor lalu berhak mendapat cap logo CCA pada sampulnya. Ketatnya sensor mendorong sejumlah penerbit buku komik menutup usahanya.

Di Indonesia, agak sedikit berbeda. Komik bukan hanya dituduh penyebar kebodohan tapi mewakili Barat yang liberal dan kapitalistik yang membahayakan identitas bangsa (Wibowo,2012). Namun bukan hanya itu. Lewat Seksi Bina Budaya yang bagian dari kepolisian dan Opterma (Operasi Tertib Remaja), komik disensor. Uniknya sensornya cukup luwes karena komik yang memuat “pornografi” (dengan tanda kutip) boleh tetap terbit asal tidak frontal (Bonneff, 2008). Lihat bagaimana isu yang berbeda  digunakan mengkambing-hitamkan komik.

Novel Grafis

Istilah ini muncul saat A Contract with God karya Will Eisner terbit 1978. Menurut Maharsi (2011) tema yang diangkat di novel grafis lebih serius, lebih panjang, ceritanya bukan untuk anak-anak pula. Tujuannya hanya satu: menghilangkan kesan murahan.


Mengapa demikian? Tak lain karena komik masih lagi-lagi dicap pembawa kebodohan, bahkan hingga sekarang. Dari sejarahnya komik pernah dibakar, tidak hanya di Indonesia pada 1955, tapi di Amerika Serikat yang konon menjunjung kebebasan berpendapat tahun 1948. Dengan banyaknya gambar, tuduhan yang dialamatkan pada komik adalah dibatasinya imajinasi pembaca. Tidak seperti ketika membaca novel (Eisner, 1985).

Dari situasi ini tumbuh istilah novel grafis (di Indonesia ada “nopel bergambar”). Maunya ingin agar komik dianggap setara dengan novel, sama-sama dianggap produk sastra. Dengan memakai istilah ini bisa jadi komikus sadar posisinya yang marjinal tetapi dengan secara tidak sadar mengakui wacana dominan yang menggunggulkan novel di atas komik.

Sebagai catatan, di Indonesia dikenal istilah cergam untuk menyebut komik. Bahkan perkumpulannya disebut Ikasti (Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia). Para komikus merasa lebih nyaman dengan istilah ini karena terdengar lebih bagus (Bonneff, 2008). Di sini saya mau menunjukkan bahwa suatu istilah semacam novel grafis yang terdengar keren tidak lantas lepas dari hal-hal lain yang non teknis.

 

Komik Online

Komik ini menggunakan internet dalam publikasinya. Kemunculan internet telah membuka kesempatan seluasnya buat komikus untuk berkarya dan menyiarkan karya mereka ke seluruh dunia. Terlebih sejak hingar bingarnya media sosial, kegiatan pamer tidak lagi dilabeli pamer melainkan “berbagi.” Menyimak sejarahnya, justru keterbatasan media massa era sebelumnya seperti surat kabar dan penerbit buku yang mendorong pesatnya komik online. Tentu kehadirannya didukung perangkat teknologi dan akses internet yang makin terjangkau.

Keterbatasan itu bukan hanya dari jumlah medianya, tapi juga alokasi [ruang] cetak, biaya cetak dan distribusi, serta jangkauan pembaca. Internet mengizinkan alih kuasa yang lebih kentara dari pemilik media ke orang biasa. Model komunikasi satu arah dan berjarak berubah ke lintas arah di mana komikus bisa langsung berinteraksi dengan penyimaknya (pemberi komentar).

Penyebab kepopuleran komik online adalah kebutuhan akan wadah berekspresi, yaitu ekspresi yang lain dari biasa/umum. Misalnya salah satu komik online yang populer di Indonesia adalah TahiLalats (dengan bentuk komik strip!). Komik dengan konten nyeleneh yang tidak biasa seperti TahiLalats jelas tidak akan bisa masuk ke media massa arus utama (Kompas misalnya) karena tidak sejalan dengan misi yang telah ditetapkan.

Kendati begitu adalah tidak tepat jika mengatakan internet adalah ruang sebebasnya yang menjunjung kesetaraan. Dunia maya tetap diikat aturan yang ada di dunia nyata. Apalah artinya ruang kebebasan jika hanya untuk melukai pihak lain. Di sisi lain akses suatu konten dapat dengan tiba-tiba dibatasi. Penyedia layanan tetap punya kuasa lebih di atas “pengguna.” Komunikasi lintas arah juga bukannya tanpa masalah karena menimbulkan gesekan antara yang disebut sebagai haters dengan fans.

Tentu ada beberapa kasus menarik di mana komikus mampu membangun kapital berupa basis pendukung (fans) yang bisa dengan kompak menyokong komikusnya baik lewat pendanaan publik (misalnya: patreon) atau gerakan sosial yang pernah menimpa komik TheOatmeal kala menghadapi tuntutan hukum dari situs berbagi konten lucu, FunnyJunk dan serangan para pengguna situs tersebut. Bisa dibaca di sini.


Dari paparan dinamika di atas terlihat bagaimana bentuk komik tidak merupakan ketetapan tunggal, bentuk itu sendiri membentuk diri,  dan seringnya adalah tanggapan atas sebuah situasi sosial. Maka itu pemaknaan atasnya terus dan masih akan berubah.

(Restu Ismoyo Aji)

Sumber:
Bonneff, Marcel, 2008, Komik Indonesia, Jakarta: KPG.
Eisner, Will, 1985, Comis and Sequential Arts, Florida: Poorhouse Press.
Maharsi, Indiria, 2011, Komik Dunia Kreatif Tanpa Batas, Yogyakarta: Kata Buku.
McCloud, Scott, 1993, Understanding Comics, New York: Harperperennial.
Wibowo, Paul Heru, 2012, Masa Depan Kemanusiaan: Superhero Dalam Pop Culture, Jakarta, LP3ES.

Pascawisuda

Sebelum lebih jauh, di awal tulisan yang tidak aku tulis melainkan diketik ini, inginku mengutip cuitan verbatim dari akun Twitter seorang rekan kuliah yang berbunyi:

“mahasiswa baru tampangnya bahagia dan optimis. mahasiswa lama tampangnya kaya abis nelen jeruk nipis campur garem HAHAHA”

Cuitan ini dicuitkan sekira pertengahan tahun lalu ketika kami semua, mahasiswa sebuah prodi di S2 Pascasarjana UGM tengah berjuang merampungkan tesis di ujung masa akhir studi. Masa studi yang menurut peraturan maksimal hanya boleh mencapai sekian tahun saja, tidak lebih, bila kurang tentu bagus. Sehingga ketika akhirnya berhasil lulus dengan sukses, tidak ada yang lebih melegakan dan menyenangkan bagi diri ini. Sungguh! Lulus dari kampus sebesar UGM sungguh membahagiakan. Ungkapan yang terdengar nyinyir semacam, “selamat, sekarang anda akan menjadi pengangguran…” tidak akan mempan buatku.

Megah...i

Apa sebab? Pertama, biaya kuliahnya mahal. Tentu mahal itu relatif. Sebagai catatan atau upaya untuk mengenang jika aku tidak lagi ingat, satu semesternya mencapai delapan juta Rupiah (sebagai perbandingan, harga bakso yang ‘waras’ adalah sekitar 12 ribuan). Memang sih jika sudah melebihi 2 tahun alias sedang menggarap tesis, biaya menjadi ‘hanya’ lima juta Rupiah. Tapi tetap saja tergolong mahal buatku. Dengan kelulusan artinya aku tidak perlu lagi pusing soal biaya kuliah.

Alasan Kedua, kuliahnya sulit. Seberapa sulit jelaslah lagi-lagi relatif dan tergantung makna sulit itu sendiri yang akan berbanding lurus dengan seberapa cepat rampung atau tidak sehingga membutuhkan bahasan terpisah. Ada orang-orang [sok] bijak bilang bahwa jangan bilang sulit, karena nanti jadi sulit sungguhan. Masalahnya adalah setiap orang tidak punya modal yang sama untuk menghadapi serangkaian perkuliahan tertentu. Jadi shut the hell up. you byatch!

Inti ketikan yang ingin kuejawantahkan di sini kira-kira semacam ini: Kampus tak ubahnya bagai pabrik lulusan. Lulusan yang [harus] siap dipekerjakan di luar sana. Semakin cepat sebuah kampus menghasilkan lulusan, apalagi yang begitu lulus bisa langsung dapat kerja, semakin melangit reputasi kampus. Maka kian cepat pula kampus mendapat mahasiswa baru. Dengan begitu  semakin cepat juga kampus menyerap uang, karena masa depan pasca kelulusan bak menatap mentari terbit dari puncak Merapi, menjanjikan kemilau di ujung wisuda, dan ini semua bekerja bersama lewat berbagai perangkat yang telah diakademisikan (dibuat jadi akademik).

Bukan jangan-jangan, biaya kuliah tersebut di atas memang sengaja dirancang menekan agar mahasiswa tidak betah berlama-lama menguras ilmu dari kampus, melainkan cepat-cepat merampungkan kuliahnya, terjun ke dunia kerja, supaya segera beroleh kompensasi biaya kuliah yang sudah digelontorkan. Jika tidak, maka meminjam ucapan yang selalu terngiang dari seorang dosen: “anda harus segera memikirkan caranya rampung, karena mesin penagih SPP terus berputar.”

Kata-kata dosen ini menarik karena idiom ‘mesin’ yang dipilihnya. Mesin adalah perangkat yang mekanis, bekerja atas sebuah desain berdasar sistem demi melayani suatu fungsi. Mesin penagih SPP adalah perangkat akademis yang dibuat berjalan bersamaan dengan aturan cepat lulus dari kampus.
Biaya sa’hoha di atas lantas diwajar-wajarkan sebagai konon katanya bagian dari peningkatan mutu. Bahwa seiring dengan biaya tinggi akan ada kualitas yang ditingkatkan, walau sependek penyederhanaan dana yang telah mencakup biaya wisuda. Menyembunyikan usaha menaikkan pamor dan akreditasi prodi yang disangkutkan di mata calon mahasiswa. “Oh, biaya mahal berarti kuliahnya bermutu tinggi.” Nalar barang mahal lantas berarti kualitas tinggi diterapkan dalam dunia pendidikan.

Soal cepat dapat kerja, aku gak bilang dapat kerja atau menjadi pekerja itu buruk. Kita semua perlu kerja dan ditakdirkan jadi ‘pekerja’ biar bisa dapat uang untuk bisa terus hidup. Bukankah begitu konsekuensi hidup di alam kapitalisme? Gak heran pula bila si penyanyi dari grup band Nidji menginginkan agar skripsi dihapus saja diganti menjadi magang.

Hahahah…, nalar apa lagi jika bukan nalar dagang yang melanda otak si penyanyi band? Dia tentu kecewa bahwa skripsinya tidak bisa dibuat cari kerja dan memang bukan untuk dapat kerja. Lantas pendidikan menurutnya—seperti orang Indonesia pada umumnya—seharusnya jadi tiket untuk dapat kerja. Dunia pendidikan [tinggi] jadi serba transaksional. Tapi mau bagaimana lagi, wong nama kabinet menteri di Indonesia [saat ini] ya Kabinet Kerja.

Bukannya praktik memberi nama berarti memberi makna? Penamaan demikian menyajikan obsesi pemerintah secara gamblang, yaitu kerja (atau kelihatan kerja?). Pemerintah juga tidak bisa sepenuhnya dituding sebagai biangnya. Ia adalah cerminan mayoritas rakyatnya yang memang terobsesi dengan pekerjaan, sedangkan pemerintah diharapkan jadi penyedia lapangan kerja. Maka jadilah nama kabinet yang serba molitis.

Sambutan Si Lulusan Terbaik (aku tidak tahu namanya siapa) di Sekolah Pascasarjana kala wisuda April lalu dapat dijadikan patokan. Si Mbak yang sudah ibu-ibu ini menyampaikan paradoks usang yang terus disampaikan berulang-ulang soal dunia pendidikan yang kira-kira apalagi kalau bukan: “kebutuhan antara dunia kerja tidak sejalan dengan pendidikan.”

*Ya, iyalah. Siapa bilang harus sejalan?

Pembacaanku terhadap pernyataan Si Mbak Lulusan Terbaik adalah, dia berharap sama seperti Si Penyanyi band Nidji supaya pendidikan jadi pelayan dunia kerja dan dunia kerja jadi lahan untuk para lulusan kampus untuk bekerja. Klasik dan klise. Predictable and exhausted.

Bagiku paradoks sesungguhnya kalau memang mau diada-adakan tentang dunia pendidikan adalah ketika mahasiswa yang sukses saat kuliah (nilai tinggi dan dengan kebanggaan menyandang predikat kumlaut yang dibuktikan selempang di pundak) malahan kalah telak suksesnya dibandingkan mahasiswa yang prestasi akademiknya biasa saja.

Tentu definisi sukses adalah [lagi-lagi] relatif, seperti konon katanya ganteng adalah relatif. Namun situasi yang non hipotetikal di atas jelas ada dan menunjukkan ada yang keliru dengan cara pengelolaan atau lebih tepatnya arah pendidikan.

Lalu masih dari Si Lulusan Terbaik Pascasarjana. Dia dengan nada humble bragging-nya berucap yang kira-kira: “saya lulus bukan karena saya paling pintar, tapi karena saya paling taat aturan...”
Aku cuma bisa geleng-geleng sembari ngekek in silent sendiri plus palm face. Duduk di belakangku wisudawan lain turut berkomentar, “oh, berarti yang lain gak taat aturan…cuman kamu yang taat.”

Hah, aturan. Aturan kampus yang telah pakem tidak pernah dipertanyakan lagi oleh mahasiswa. Memang begitulah adanya dan begitulah seharusnya dan itulah yang dilabeli sebagai sikap disiplin, taat, setia. Dapat nilai dominan A, lulus cepat, cepat dapat kerja pula. Sekali lagi, ya karena kampus sudah berubah jadi pabrik.

Inginnya cepat ini tidak mengherankan. Manusia Indonesia memanglah terobsesi dengan pertanyaan kapan. Kapan yang menunjukkan tempo sesingkatnya, bahkan cenderung diburu-buru. Seolah tidak ada waktu nanti ataupun esok hari. Apa-apa harus serba cepat. “Lebih cepat lebih baik” katanya. “Mengejar ketertinggalan” katanya.

Sialnya, aku berkuliah di prodi pemikir. Sementara kerja berarti membuat langkah ‘nyata,’ mikir berarti tidak kerja melainkan termenung-menung tiada guna. Termasuk ngomyang dewe di blog pribadi. Jangan buru-buru bersangka-ria. Aku dulunya pun sempat punya pikiran pragmatis praktis seperti Si Mbak Lulusan Terbaik. Aku dulu mengejek orang yang kuliah terus tapi ujung-ujungnya nganggur tanpa penghasilan hanya karena belum sepenuhnya sadar bahwa barangkali orientasi pendidikannya yang perlu digugat. Di sinilah buahnya aku berkuliah di prodi pemikir, biar mahasiswa yang belum kunjung lulus tidak seperti nelen jeruk nipis plus garam.