Dosen kok Suruh Ngurus Absensi

Adalah sebuah pengetahuan umum, tugas dosen adalah melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan/pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Satu lagi disebut penunjang yang berkutat biasanya pada kepanitiaan yang sudah pasti tidak bisa terhindar darinya.

Yang mengherankan di kampus tempatku 'macul wakul' ini, para dosen masih disuruh presensi dua kali: pagi (masuk) dan sore (pulang). Presensi ini digunakan sebagai patokan seberapa besar uang makan/minum (mamin) harian yang diperoleh dosen. Seharinya sekira Rp37ribu (disetarakan dengan PNS, walau tidak berstatus PNS--untuk ini aku bersyukur). Tapi belakangan presensi semakin diketatkan. Jika melebih jam masuk yang 7:30 ini maka secara otomatis, dosen tersebut tidak akan mendapatkan uang mamin (gaji dosen tanpa adanya uang mamin bakal di bawah UMR). Sambil di sisi lain, luaran Tridharma juga masih dituntut. Dosen yang notabene garda terdepan Perguruan Tinggi disuruh tertib masuk-keluar. Jika ingin berkegiaran di luar, maka wajib mengurus/mengajukan Surat Tugas (ST) dan Surat Perjalanan Dinas (SPD).

Masalahnya pengurusan ST dan SPD adalah hal yang sangat administratif dan birokratif dan juga kerap berubah-ubah semaunya para pejabat Dekanat. Alurnya seolah sengaja dibuat rumit. Seolah kami ini--para dosen--gemar berdusta soal kegiatan Tridharmanya. Misalnya: kegiatan yang diajukan tidak boleh melebihi bulan di mana kegiatan tersebut dilaksanakan, dengan alasan nomor ST terbatas. Padahal kalau kegiatan dosen ada banyak, fakultas ikut diuntungkan karena pasti remunerasi para pejabatnya bakal ikutan meroket (lucunya/ajaibnya ST seakan-akan turun jauh di tanggal sebelum ST diajukan. Misalnya kami mengajukan kegiatan pengabdian masyarakat pada 10 September, maka nanti ST (paling cepat) baru kami terima pada 20 September namun bertanggal 31 Agustus).

Nah, sambatan ku kali ini berkaitan dengan hal-hal di atas.   

Alkisruh pada pekan keempat Agustus 2023, para dosen PNS di kampus ini mendapat surat teguran tentang alpha/mangkir kerja. Yang mengejutkan beberapa nama bisa dianggap alpha hingga mencapai >100 hari. Para dosen yang disurati diminta mengisi surat pernyataan menerima/tidak menerima temuan ini dan jika menerima maka harus mau diberi sanksi: teguran, pemotongan tunjangan, sampai pemecatan. Untuk mencegah itu terjadi maka dosen-dosen yang disebut namanya harus menyediakan bukti-bukti berupa ST dan SPD di hari-hari ybs. dihitung alpha. Tentu saja ini bikin dosen-dosen satu kampus gerah, heboh, dan panas.  

Daftar nama dosen PNS yang dituduh alpha 

Yang memanggil adalah Satuan Pengawas Internal (SPI) kampus kepada dosen-dosen yang lucunya beberapa nama anggotanya masuk juga di dalam daftar "merah" ini. Di mana awalnya ada temuan dari Irjen mengenai ketidaksinkronan antara ajuan uang mamin ke Pusat dengan rekap kehadiran dosen. Rumornya ajuan mamin dari kampus selalu full 100%, tapi kemudian Irjen mempertanyakan sistem masuk dosen, yang mana lantas ditunjukkanlah peraturan masuk-keluar dua kali pagi-sore, yang ketika ditelusuri ada banyak "kebolongan" pada presensi dosen, yang sebenarnya awalnya sudah dipertanyakan oleh Irjen: "ini dosen-dosen sama sekali tidak pernah ada dinas, kah? kok ajuan mamin selalu penuh?" Dan terjadilah peristiwa pemanggilan terhadap nama-nama dosen sekampus untuk mempersiapkan bukti atau siap menerima sanksi.

Setelah ditelisik lagi. Jumlah alpha bisa sedemikian besar adalah karena: 1) bagian Tata Usaha (TU) di masing-masing fakultas tidak pernah mengoreksi ke-alpha-an dosen menjadi "D" (dinas) ketika dosennya memang sedang berdinas keluar kampus (penelitian atau pengabdian masyarakat). Sementara konyolnya adalah seluruh ST dan SPD yang mengeluarkan ya mana lagi jika bukan TU sendiri. Dan 2) beberapa nama dosen PNS yang dicantumkan di situ dihitung masuk mulai awal Januari 2022 (rekrutan CPNS 2021), di saat sebetulnya TMT (Terhitung Mulai Tanggal) masuknya adalah Maret 2022. Sehingga coba dihitung saja seandainya setiap bulan, mulai Januari-Februari harusnya masuk ya ketemu paling tidak: 40 hari kerja yang konyolnya kan tidak digaji juga. Entah keteledoran dari mana pihak mana data seperti ini bisa luput dari penghitungan.

Yang disayangkan adalah, mengapa data yang masih mentah tersebut dilaporkan begitu saja ke Pusat tanpa dilakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan para dosen yang namanya disebut/dianggap mbalelo? SPI seharusnya menjadi benteng terakhir dari kinerja kampus (terutama dosennya sendiri) di saat pihak Dekanat juga tampak sibuk cuci tangan sendiri dan membela pihak TU yang sangat pasif, tidak ikut membela dosen-dosen yang sudah bekerja demi kocek remunerasi mereka yang besarannya mencapai dua digit itu. Mereka malah asyik menjejalkan peraturan-peraturan PNS serta sanksi-sanksi yang menanti.

Pertanyaannya, mau sampai kapan ini dibiarkan berlangsung?!!


Jiwa Daur Ulang (Pemanfaatan Daun Pisang Bekas)

Adalah secuil tabiatku untuk membenci sesuatu yang terbuang sia-sia. Mbak Bojoku dengan segera mengetahui dan memahami hal ini. Bukan hanya makanan yang bersisa di piring, tapi juga termasuk benda seremeh dan kerap terabaikan seperti: daun pisang bekas pembungkus atau pengalas makanan. Tentunya dengan catatan masih bersih dan tidak layu.

Akhir Desember tahun lalu sekembalinya Mbak Bojo dari diklat pura-pura jadi tentara (baca di sini). Dia membawa oleh-oleh sekotak gudeg Yu Narni. Nah, alasnya adalah beberapa helai daun pisang yang masih terlihat hijau dan segar. Olehnya, tanpa anjuranku, dia mencuci lalu menggunakan kembali daun pisang bekas alas gudeg itu sebagai bungkus nasi bakar racikannya sendiri yang sopasti rasanya lezat. Sungguh membanggakan! Ternyata Mbak Bojo sudah sepaham soal "jiwa daur ulang" dalam diriku.

nasi bakar
Nasi Bakar pakai daun pisang bekas gudeg

Terdengar bagaikan upaya pengiritan yang keterlaluan? Barangkali iya. Masalahnya kami yang sekarang berdomisili di Surabaya tidak lagi cukup mudah beroleh daun pisang. Tidak seperti saat kami di Jogja bagian pedesaan. Tinggal jalan kaki ke sawah, petik daun sendiri langsung dari pohonnya. Kami juga belum tahu (ketika itu) harus kemana kalau mau membeli daun pisang. Di pasar dekat rumah [kontrakan] daun pisang tidak selalu ada.

Alasan lain adalah soal lingkungan. Dengan menggunakan ulang daun pisang yang belum rusak, kami telah berusaha turut serta dalam pelestarian lingkungan. Lagian loh, daun pisang itu lama busuknya, juga mumpung ada.

Nah, bukan kebetulan pula awal Januari aku ngadain syukuran ulang tahun di kampus tempat aku mburuh. Syukurannya berupa nasi kuning plus lauk-pauknya di atas tampah sekira untuk 20 porsi. Total habis Rp. 450 ribu. Harga yang layak, mengingat rasanya yang sedap dan porsinya yang besar. 

nasi kuning
Nasi kuning pesen di teman kerja Mbak Bojo

ulang tahun
Sesi pura-pura berdoa sambil difoto. Ini sesi sehabis senam di suatu Jumat

Berhubung hari di mana aku berulang tahun bertepatan dengan acara sambut-pisah dekan lama ke dekan baru, aku sempat ragu mau pesan nasi kuning ini. Takutnya gak ada teman-teman yang makan. Alhamdulillah, cuma sisa sedikit. Itupun sudah dibagi-bagi ke teman-teman. Hanya tinggal lembaran daun pisang dalam plastik bening yang tadi digunakan untuk menutup nasi kuning.

Tanpa basa-basi kuangkut pulang. Kujelaskan ke teman-teman kerja yang ada di situ, bahwa daun-daun pisang ini masih bisa dibuat nasi bakar. Salah seorang dari mereka heran bin melongo, "emang bisa dibuat nasi bakar? Kan udah bekas, kena minyak." Bisa saja, jawabku. Tinggal dicuci. Dalam benaknya mungkin aku ini terlampau pokel alias medit alias pelit. Tapi terserah apa yang ada dalam pikirannya. 

Ketika Mbak Bojo tahu aku membawa pulang sebongkah (karena jumlahnya cukup banyak) daun pisang, dia langsung mengerti tujuanku, meski baru keesokannya daun-daun itu dibersihkan, dilipat, lalu disimpan dalam kantong plastik tertutup dalam kulkas.

Baru berhari kemudian, dia sempat memanfaatkannya untuk membungkus pepes atau dikenal juga dengan brengkes kalau di Surabaya dan mungkin di Jawa Timur (di Bojonegoro juga disebut brengkes).

pepes alias brengkes
Pepes ikan pindang pakai daun bekas nasi kuning

Pertanyaan selanjutnya adalah, kami kemanakan daun-daun pisang bekas nasi bakar dan pepes itu? Balik lagi ke awal dan pertengahan ketikan ini. Bahwa aku membenci segala yang terbuang sia-sia + alasan kepedulian lingkungan atau "jiwa daur ulang". Kami menguburnya atau lebih tepat mencampurnya dengan sampah dapur untuk dijadikan kompos. Demi untuk memuaskan hobi kami bertanam-nanam di perkotaan. Tapi itu cerita untuk ketikan lainnya di lain waktu.

Kenapa Aku Gak Suka Avatar: Way of Water

Sabtu dwiminggu lalu aku ajak Mbak Bojo nonton Avatar: Way of Water (selanjutnya disingkat WoW). Random aja, tiba-tiba ngajak nonton film. Biasanya weekend kami joint venture ngurusi kerjaan rumah. Berangkatlah kami pada suatu siang jelang sore ke sebuah bioskop di area Rungkut.

Mbak Bojo rupanya tidak tahu film ini dan aku memang tidak bilang kami akan menonton apaan. Dikiranya ini adalah versi film Avatar Aang (The Last Airbender), yang dulu kalau ada yang ingin melupakan, pernah dibuat live actionnya oleh M. Night Shyamalan (or should I say Shame-lan?). Jadi begitu muncul tulisan "Way of Water" disangkanya: "Loh, ini masih yang water?" Ah, nope, bukan Avatar yang 'itu' tapi yang 'ini'. 

Omong-omong, lagian aneh juga James Cameron milih judulnya diembeli water, ntar jangan-jangan sekuelnya Way of Earth, terus terakhir Way of Fire.


Dan ternyata Mbak Bojo juga belum pernah menoton Avatar (2009). Film yang kutonton tiga kali di bioskop dan entah berapa kali di komputer/laptop. Jadi ketika karakter makhluk biru ini muncul, istriku langsung bilang kalau dia takut ngeliatnya sembari mengalihkan wajah dari layar.  

Waduuh, ngalamat iki.

Secara umum aku kurang menyukai film ini. Ditambah lagi sedikit-sedikit aku harus menjelaskan plot film ke Mbak Bojo tentang apa yang terjadi kepada tokoh-tokoh di dalam WoW. Aku bisa merasakan dia bosan. Cukup sering ngecek hape membuka WA. Aku maklum, wong, aku juga bosan. Tapi ya gimana lagi, sudah terlanjur bayar. Yang bisa kulakukan adalah melindungi agar sinar hapenya tidak mbelerengi penonton lain dengan cara menutupi hape dari samping pakai telapak tanganku. 

Kenapa aku tidak suka plus merasa bosan, terlepas dari pencapaian visual yang memang ciamik meski sejatinya aku tidak merasa ada sesuatu yang signifikan dibandingkan film pertamanya?

1) Secara garis besar ceritanya mengulang sama persis dengan film pertama. Hanya saja lokasinya pindah ke bagian lain dari Pandora. Ke sebuah komunitas/klan yang budaya dan gaya hidupnya berbeda. Dimana, baca nih...Jake Sully dkk (dan kawan-keluarganya) harus belajar bagaimana hidup seperti klan Metkayina yang seperti tinggal di 'Maladewa'. Berlawanan dengan mereka yang berasal dari hutan 'Amazon'. Persis banget dengan dulu saat dia harus adaptasi dengan kehidupan Na'vi Omaticaya. Mereka makhluk asing dan di akhir kisah, mereka tidak lagi dianggap asing. Kalau sudah menonton keduanya akan banyak plot yang sama persis.

2) Skala konfliknya jauh menurun. Tidak ada lagi perang besar dimana sosok "avatar" dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik. Konflik dan perang hanya berkisar di sebuah kapal karam di tengah lautan. Bisa dimengerti karena Cameron mau memperpanjang seri film ini sampai tak terbatas, hanya Tuhan dan dia yang tahu.

3) Terbangunnya karakter Jake Sully di film pertama menguap lenyap. Dari yang seorang pejuang yang peduli dengan Omaticaya dan Eywa. Sampai menjadi Toruk Makto, mendadak jadi lemah dan egois. Mentingin keluarganya sendiri. Malah cuma ingin melarikan diri dari kejaran RDA. Hanya dengan alasan bahwa Quaritch kemungkinan besar akan balas dendam dan akan membahayakan Omaticaya, dia memilih kabur ke lautan dan malah membahayakan klan lain. Bilangnya ingin melindungi keluarga, tapi malah...ah...dia kan bisa memimpin lagi perang besar, tinggal menyatukan semua klan, terus perang. Tapi ini malah cuma mengadakan gerilya kecil-kecilan.

4) Jadi bergaya dokumenter tentang perburuan 'ikan paus' (disebut "tulkun"). Yang mana karakter pemburunya sendiri berusaha keras menjadi villain dengan lagak komikalnya. Ini bukan masalah akting, tapi penulisan karakter. Karakteristik mereka jadi annoying bukan terrifying. Apa memang itu yang dituju? Entahlah.

5) Motivasi manusia bukan lagi unobtanium yang entah fungsinya apa, melainkan jus otak ikan tulkun sebagai obat awet muda. Yang harganya di-pump-up jadi lebih mahal daripada batu/mineral di film pertama. Obat awet muda jadi tidak masuk akal, apalagi dituturkan bahwa Bumi sedang sekarat. Teraforming Pandora lebih masuk akal tapi tidak, bukan itu yang dilakukan. Jus otak ikan ini jadi agak mendadak. Tiba-tiba dibuat, diada-adakan. Dan gimana caranya manusia bisa kepikiran hunting ikan tulkun buat diambil otaknya? Sangat terasa hard selling pesan environtmental-nya. Bukannya aku kontra dengan pesan untuk kebaikan lingkungan, tapi sangat terasa maksa.

6) Jadi terlalu berfokus ke kisah kenakalan remaja yang sangat terasa "Amerikasentris". Movie trope genre teenage yang agak semi coming-to-age. Ada pranking, bullying, fighting, love interest, ngertilah. Intinya mereka sangat berbudaya manusia Bumi (saat ini). 

7) Penggunaan bahasa Inggris jauh lebih banyak daripada film sebelumnya. Seolah itu bahasa satu planet. Kata "Bro" bahkan bertebaran seolah lazim digunakan untuk saling menyapa antar duo-karakter. Buatku ini amat sangat menyebalkan untuk didengar. Beda sekali dengan film pertama dimana world-building terasa lebih kompleks dan believable.

Mungkin itu saja sih, unek-unekku tentang film ini. Jelas, aku tidak berminat menonton Avatar 3 Whatever The Title Will Be apalagi jika nanti bakalan semembosankan WoW ini, karena apa? Mbak Bojo jadi menuntutku untuk membalas kesediannya menemaniku nonton dengan cara nobar drakor di rumah. Hmm...mungkin itu jauh lebih baik.