Ironi Kupon Undian Beasiswa

02.42.00 Jino Jiwan 0 Comments

Meraih beasiswa adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi penerimanya. Kian istimewa di kala persyaratan untuk itu tidak makin mudah dan prosesnya memakan waktu yang tidak singkat. Mulai dari standar nilai akademik yang tinggi, sertifikat serta surat-surat rekomendasi, pemrioritasan tingkat ekonomi atau asal daerah/negara tertentu, hingga wawancara langsung dengan pihak pemberi dana. Jadilah menerima beasiswa terasa bagai prestasi apalagi jika melibatkan angka-angka: mendapat lebih dari satu beasiswa; nominalnya terbilang besar; atau bisa mengalahkan sekian jumlah pelamar yang lantas bisa/akan dicantumkan dalam Daftar Riwayat Hidup ketika melamar pekerjaan atau pada profil penulis jika yang bersangkutan menulis buku. Berbanding terbalik dengan keadaan tersebut, swalayan Mediko di daerah Patangpuluhan Yogyakarta menawarkan kemudahan bagi siapa saja untuk meraih “beasiswa.” Syaratnya mudah, cukup belanja senilai Rp. 50.ooo,- dan kelipatannya maka seorang berhak mendapat kupon undian beasiswa. Hadiah yang ditawarkan hanya 1,5 juta Rupiah dibagi 6 pemenang, bukan jumlah menggiurkan memang apalagi jika disandingkan beasiswa lain. Namun yang namanya beasiswa tetap saja beasiswa..., atau tidak lagi?

Rp. 50 ribu untuk Rp. 250 ribu

Sulit untuk melacak asal usul beasiswa, diduga ia sama tua dengan munculnya pendidikan terinstitusi itu sendiri. Menurut dictionary.reference.com beasiswa atau scholarship dalam pengertian biaya untuk sekolah/kuliah digunakan pertama kali pada 1580. Berbeda dengan dana pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemberinya, beasiswa adalah dana cuma-cuma yang dijadikan sebagai investasi dari pihak pemberi dengan timbal balik berupa prestasi dari penerima. Lewat pola semacam ini, beasiswa tidak pernah bebas nilai dan tidak bersih dari kepentingan. Apalagi jika beasiswa menyaru kupon undian yang mensyaratkan belanja dengan nominal tertentu. Maka dipastikan berlimpahnya relasi tanda terhadap makna yang ditimbulkan.

Kesederhanaan melingkupi seluruh tampilan kupon undian. Mulai dari kertasnya yang tipis dan hanya berukuran 9 x 4 cm hingga penggunaan teknik fotokopi menunjukkan biaya yang ditekan untuk membuatnya. Terdapat lima rangkaian informasi verbal di lembarnya yang mungil. Pertama, jenis kupon diikuti periode bertuliskan: kupon belanja Periode April-Juli 2015. Kedua, nama program undian dan nilai hadiah: mediko Back To School, DAPATKAN HADIAH BEA SISWA TOTAL HADIAH Rp. 1.500.000 (@Rp.250,00 Untuk 6 pemenang). Ketiga, data diri pelanggan dalam kupon: Nama, Alamat, No. id. Keempat, syarat dan ketentuan: hanya dengan belanja Rp. 50.000, berhak mendapat 1 kupon dan berlakukelipatannya. Dan yang terakhir, cap/stempel Mediko Patangpuluhan.

Kupon ini uniknya tanpa menyertakan sama sekali nomor seri, tidak ada pula sobekan bukti keabsahan yang umumnya dipegang pihak pengundi. Ketiadaannya digantikan oleh stempel toko yang anehnya tidak begitu kentara. Hal ini mengindikasi bagaimana pihak toko percaya kepada pelanggan tidak akan memalsukan kupon. Ada keyakinan pelanggan adalah pelanggan yang secara rutin sering berbelanja dan terus mengikuti program undian lain di Mediko. Nilai uang hadiah yang kecil dapat pula berdampak pada tidak perlunya mekanisme undian rumit karena itulah nomor seri tidak diperlukan.

Penyertaan data diri pelanggan yang terbatas pada nama, alamat, dan no. id (identitas) tanpa ada baris isian nomor ponsel menunjukkan pihak Mediko tidak mau repot menghubungi pemenang dan tidak ada cara lain bagi pelanggan untuk tahu apakah dia menang atau tidak selain datang sendiri ke Mediko setelah undian dilakukan di akhir periode Juli nanti. Dengan cara memancing pelanggan datang berarti ‘memaksa’ mereka untuk berbelanja kembali walau sekadarnya saja. Di era konsumerisme seperti sekarang sulit membayangkan bila seorang datang ke toko hanya untuk mengecek nama pemenang.
Kekurangcermatan bertebaran pada penampakan kupon. Misalnya pada tulisan “kupon belanja” sebagai judul, bukannya menggunakan “kupon undian,” sebuah istilah yang jelas lebih tepat karena kupon ini diundi bukan untuk belanja langsung. Bisa jadi pihak Mediko hanya tinggal mengubah template kupon yang dimiliki. Kata “Bea Siswa” pun ditulis dengan spasi pemisah antara bea dengan siswa. Keterangan bilangan hadiah tertulis @Rp.250.00, kurang satu angka “0” sehingga terbaca dua ratus lima puluh, bukan dua ratus limapuluh ribu sebagaimana dimaksud oleh pembuatnya. Kekurangcermatan ini dapat dibaca sebagai murni kesalahan ketik yang diabaikan/luput dari perhatian atau justru kaidah bahasa sudah tidak teramat penting lagi buat pembuat program undian, terlebih bagi pelanggan yang hanya ingin belanja demi beroleh kesempatan menang hadiah.

Di tengah persaingan menghadapi minimarket bermodal lebih besar seperti, Indomaret dan Alfamart,  Mediko meminjam istilah beasiswa untuk memoles hadiah undiannya, undian yang tujuannya tidak lebih dari memikat orang untuk belanja. Beasiswa jatuh menjadi label yang disematkan pada uang hadiah undian. Serupa dengan yang dilakukan acara-acara seminar ketika memakai kata “investasi” untuk mengganti biaya keikutsertaan atau mengganti istilah hadiah uang tunai dari bank dengan “tabungan pendidikan.” Dengan demikian jika kontek waktu berganti menjelang Idul Fitri maka besar kemungkinan undian akan memakai istilah “THR” bukan beasiswa back to school. Nyatanya swalayan Mediko bukan satu-satunya yang memanfaatkan istilah beasiswa ini.

Belakangan gairah mengincar beasiswa turut dipicu dua novel berseri semi-memoar berkisah mengenai kesuksesan mengejar pendidikan tinggi, Laskar Pelangi (Andrea Hirata) dan Negeri 5 Menara (Ahmad Fuadi) di mana tokoh-tokoh dalam novel diceritakan mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri. Ahmad Fuadi, setelah novelnya laris juga ikut-ikutan menulis buku Beasiswa 5 Benua yang berisi tips mendapat beasiswa. Dari terbitnya buku-buku ini dapat dibaca bahwa beasiswa yang menjanjikan kenikmatan dunia akademis telah menjadi komoditas. Beasiswa dengan tingkat keistimewaannya, terutama kalau menyangkut ke negara luar jadi pantas diperjuangkan oleh siapa saja. Itu sebabnya bila seorang ingin mendapat beasiswa, maka dia harus membeli buku-buku tips cara memperolehnya. Tidak cukup membeli tapi orang tersebut harus membacanya, mencari informasi ke sana ke mari, dan mencari surat-surat yang diperlukan. Bayangkan, buku berjudul 45 Negara Pemberi Beasiswa saja sudah seharga Rp. 45 ribu. Bagi kalangan menengah ke bawah harga itu nyaris setara kupon undian beasiswa di Mediko. Hanya dengan 50 ribu kalangan menengah ke bawah punya kesempatan meraih “beasiswa,” dan inilah yang ditawarkan oleh Mediko.

Dari sekian banyak istilah yang bisa dipakai, beasiswa yang dirangkai dengan back to school terbilang kerap dipakai. Back to school jelas merujuk pada latar waktu tertentu, yaitu berbarengan dengan kenaikan kelas dan pembukaan tahun ajaran baru. Uang hadiah undian atau hadiah dari pihak manapun seolah menemukan pembenarannya secara fungsional (nilai guna): asumsinya uang hadiah akan dipakai membantu membiayai tahun ajaran baru di sekolah. Sementara beasiswa lekat kaitannya dengan dunia akademis. Tak jarang beasiswa dijadikan pelengkap yang harus ada bagi setiap kampus. Di sini terlihat betapa biaya pendidikan masih menjadi kendala buat mahasiswa dan atau keluarganya. Hingga tidak mengherankan bila pengeksplotasian “beasiswa” lumrah di manapun. Kampus-kampus negeri terlebih swasta tak ingin kalah berlomba menawarkan beasiswa melalui iklannya sebagai magnet menarik calon mahasiswa agar mendaftarkan diri terlepas dari motifnya yang berbau komersialisasi pendidikan. Jadi tidak ada alasan mengapa minimarket haram melakukannya.

Rasanya cukup aman mengatakan bila hal demikian hanya muncul di negara yang pendidikannya ruwet di mana biayanya dirasa membebani rumah tangga. Jika kupon ukuran kecil dan kertas fotokopian tidak cukup menampakkan begitu tercampakkannya derajat beasiswa hingga dia semata dijadikan nilai tukar untuk belanja keperluan rumah tangga kalangan menengah ke bawah, bagaimana dengan peminjaman istilah beasiswa itu? Adakah ini sebuah degradasi bagi terhormatnya/bergengsinya konstruksi beasiswa selama ini?

Kiranya praktik pemakaian istilah “beasiswa” macam ini adalah suatu bentuk kitsch. Kitsch mirip parodi, sebuah representasi palsu yang memperalat stylemes untuk kepentingan adaptasi/simulasi dalam memassakan seni tinggi melalui produksi massal lewat proses demitoisasi nilai seni tinggi (Piliang, 2012:188). Nilai tanda dari secuil kata “bea(spasi)siswa” seolah mengejek rumitnya urusan meraih beasiswa digantikan oleh: berkeliling di antara rak swalayan, memilih-milih barang, membayar di kasir, mendapat kupon lalu mengisinya, dan memasukkannya ke kotak undian. Syukur kalau dapat, tidak pun tak mengapa toh sudah dapat belanjaan untuk dinikmati.
Di akhir Juli, andai pun sudah menang tidak ada kepastian uang hadiah akan benar-benar dipakai oleh pemenang untuk membiayai pendidikan anak. Siapa yang menjamin kalau pemenang sudah punya anak atau anaknya masih bersekolah. Kalau pun iya, bisa saja uang tunai itu dibelanjakan lagi di Mediko. Terlebih di saat bersamaan Mediko telah menyediakan buku-buku tulis dan alat tulis sebagai bagian dari Back To School yang diperuntukkan kepada siapa lagi jika bukan bagi pelanggan yang anaknya akan memasuki tahun ajaran baru.

(Restu Ismoyo Aji/Jino Jiwan)

http://dictionary.reference.com/browse/scholarship (diakses 20 Mei 2015).

Piliang, Y.A. 2012. Semiotika dan Hipersemiotika, Gaya, Kode, dan Matinya Makna. Bandung: Matahari.

0 komentar: