Kaka Angkat(ku)

23.49.00 Jino Jiwan 4 Comments

Rasanya kurang adil jika setelah sekian lama nge-blog aku tidak menulis tentang piaraan terbaik sepanjang masa menurut versiku sendiri: ayam! Memang benar, ayam sebagai piaraan bisa dibilang kurang lazim di Indonesia, dalam arti tidak “mainstream.” Aku tidak menampik status ayam yang cenderung lebih dekat dengan label “ternak” yang dikumpulkan dalam jumlah besar pada suatu kandang untuk diambil daging atau telurnya. Sehingga wajar jika ada yang menganggapnya bukan peliharaan karena tidak punya kepribadian yang luhur khas. Berangkat dari persoalan ini aku hendak menunjukkan bahwa ayam pun sebenarnya berbeda-beda antara satu dengan lainnya *bahasanya sok akademis ya?*. Pada level inilah ketikan hendak berposisi, yaitu untuk membela para ayam dan terlebih lagi para pemelihara ayam. Camkan itu (dengan tanda seru tiga kali).

Pada ketikan kali ini aku mau ngomongin salah satu ayamku yang kelakuannya cukup unik, seekor ayam betina berusia 1 tahun 3 bulan yang kuberi nama Kaka’ Angkat (Kaka’). Nama yang terdengar aneh apalagi untuk binatang. Tapi ada alasan kenapa kuberi nama begitu.

Kaka' Angkat usia 5 bulan
Kaka’ terhitung yang paling senior di klan Kiap (nama ayam jago yang kupelihara mulai 2013 tapi sudah dijual awal 2015). Menetas sekitar bulan Oktober 2014, Kaka’ adalah keturunan satu-satunya yang tersisa dari mama ayam bernama Nade (jenenge walikan seko Edan). Hingga saat ini tidak diketahui pejantan mana yang sudah membuahi Nade dan kurasa itu berpengaruh terhadap perkembangan psikologisnya *ayam punya psikologis?*.

Tapi sebelum lebih jauh ada baiknya aku perkenalkan dulu si Mama Nade, induknya Si Kaka’. Nade bersama rekannya Tiam (yang juga betina) dihibahkan Pakdeku yang tinggal di Temanggung. Kenapa mesti jauh-jauh dari Temanggung? Karena sejarah. Sekitar tahun 1996 keluarga kami memulai memelihara ayam dengan modal empat ekor ayam dari orang yang sama. Keempat ayam ini tingkah lakunya baik, jinak, dan tidak sombong. Mereka tumbuh dan beranak pinak hingga kami berhenti memelihara ayam sekitar 2007. Atas pertimbangan inilah Nade dan Tiam diimpor ke rumah untuk menemani Kiap yang lebih sering nunut tidur di kandang tetangga karena gak punya teman.

Terbiasa berada di pekarangan terbuka (mungkin) membuat Nade dan Tiam stres berat ketika pada suatu malam “diculik” ke Jogja selama 2 jam lebih perjalanan bermobil dalam sebuah dus mi instan. Sampai di Jogja, keduanya langsung kabur sambil berkokok-petok dan segera menghilang dari pandangan dengan cepat.

Si Nade (alias Edan) nyemplung di kerdus
Selang dua bulan kemudian Tiam akhirnya balik ke rumah dibawa pulang oleh Si Kiap, tapi tidak dengan Nade. Setidaknya selama dua kali masa bertelur Nade berkeliaran tanpa tuan. Dia terlunta-lunta dan menjadi ayam tuna kandang yang senantiasa ketakutan bila berpapasan dengan manusia. Hingga pada suatu pagi Nade kembali bersama seekor bayi ayam. Bayi ayam inilah Si Kaka’. Kesempatan ini tak kusiakan, keduanya berhasil dikurung saat itu juga, dan langsung kupisahkan.

Diasuh oleh induk yang agak gila membuat kelakuan Kaka’ (yang saat itu belum bernama) nyaris sama gilanya. Setiap didekati dia akan meloncat-loncat dan berlari menabrak dinding kandang. Ayam adalah makhluk yang gesit. Percayalah, kau tidak mau berurusan dengan mereka kalau tingkahnya liar. Keadaan ini memaksaku menerapkan metode punish and discipline untuk pertama kali dengan cara melakban kedua kakinya, menyisakan sedikit ruang antara kaki kanan-kiri hanya untuk berjalan namun tidak cukup untuk berlari dan mencakar tanah. Metode ini berhasil menaklukkan Kaka’. Dia pun memulai hidupnya di klan Kiap dengan jauh lebih tenang dan tidak lagi takut kepada manusia. Sementara induknya Si Nade, sudah terlambat untuk itu. Dia dijual bersama Kiap ketika wabah penyakit merebak Februari 2015.

Demi memaksimalkan pertumbuhan ayam-ayamku dan menjaga peluang hidup mereka, aku membatasi masa pengasuhan bayi-bayi ayam oleh induknya hanya selama dua minggu setelah menetas.

Untuk itulah Kaka’ kujadikan satu kandang bersama empat ekor bayi ayam anaknya Tiam dan Kiap, atau dengan kata lain mereka sepupuan. Keempat bayi ayam ini rupanya belum siap dipisahkan dari si induk, Kaka’ yang waktu itu lebih tua 1 bulan mengambil alih peran si induk dengan merawat keempatnya. Saat malam tiba Kaka’ membiarkan keempat sepupunya menyusup di balik sayapnya biarpun badan Kaka’ hanya sedikit lebih besar. Kaka’ juga mencarikan (mencakari tanah) dan menawarkan makanan yang dia dapat/temukan kepada adik-adik sepupunya. Sejak itulah secara resmi Kaka’ mendapatkan namanya: Kaka’ Angkat, yaitu kakak angkat bagi ayam-ayam lainnya.

little chicken
Kaka' (2 bulan) dan adik-adik (sepupu)nya
Tapi keunikan Kaka’ Angkat belum berhenti di situ. Keunikan yang membikin hubunganku dengan Kaka’ naik turun. Kadang dia lucu dan menggemaskan, seringnya sih menyebalkan. Kadang aku curiga bahwa Si Kaka’ ini dulunya adalah manusia. Manusia yang terlahir kembali menjadi ayam. Tapi itu cerita buat postingan selanjutnya. 

4 komentar:

Dimas Probo Pamungkas mengatakan...

Oi oi mas...
ayamku namanya Capek. sungguh bukan gurauan, dia dinamai Capek karna tabiatnya sewaktu kecil sering terlihat lelah. bahkan Neli sudah kuperkenalkan padanya, walau melalui media digital.

Jino Jiwan mengatakan...

Aku baru belajar kalau nama ternyata benar-benar doa. Berapa hari lalu ayamku yang namanya Sickly (soalnya dia kelihatan sakit dan susah makan) mati setelah sebulan lebih kuopname. Jadi Si Capek mungkin bakal selamanya capek. Coba diganti namanya jadi Hemaviton atau Kratingdaeng, siapa tahu jadi energik.

Aulia Taarufi mengatakan...

Mana mas cerita ayam yang namanya Eded.. kami menunggu lhoo..

Jino Jiwan mengatakan...

Oke, biar aku wawancara dulu sama Si Eded.