Petulangan Fanji

23.57.00 Jino Jiwan 0 Comments

Pada mulanya Kamu melihat warna kehijauan yang kabur. Lalu makin jelas. Tampak kerimbunan pepohonan hijau berhias semak-semak. Kemudian tebing dan batuan, disusul langit kelabu berawan. Musik yang sok tegang mengentak-entak mengusikmu. Sesosok misterius meloncat dari tubir jurang ke bebatuan, tapi kelihatan sekali kalau itu bukan orang sungguhan melainkan efek murahan seperti yang sering hadir di sinetron IndiaSiar. Kemudian…

“Halo para permirsa di rumah, namaku Fanji.” Tampak seorang pemuda tanggung berambut mi instan meringis menyapamu yang sedang tiduran santai di depan tivi. Kamupun sebagai penggemar acaranya jadi terbangun semangat untuk menikmati selama setengah jam ke depan…Petulangan Fanji!

Ini (anggap saja) Kamu
“Di episod kali ini aku akan menangkap 50 jenis ular dalam sehari untuk memperlihatkan betapa piawainya saya, yok ikuti aku.” Fanji mengajak ke arah pemirsa. Dengan langkah malas Kameramen pun terpaksa menuruti kegilaan Fanji. Andai ia tidak diasuransikan untuk keracunan ular oleh pihak tivi ia tidak akan rela ikutan ini acara. Si Kameramen mungkin lebih memilih meliput perang di Palestina. Paling tidak biar bisa mati syahid sekalian, lah ini risikonya mati dipatok ular. Duh!

Fanji berjalan nyekerman di pematang sawah. Tingkahnya amat waspada dan beberapa kali memeringatkan Kamu sebagai pemirsa untuk diam. Kamu pun mengangguk setuju, diam. Ia sesekali melompat maju lalu mundur bagai orang yang ikut lomba balap karung sambil ngisep lem. Mata Fanji tajam bagai burung garuda hendak mengincar tanaman kacang. Ia melihat sesuatu.

“Saya melihat sesuatu pemirsa.” Fanji menoleh ke kamera. Musik tegang kembali dimainkan.


Ini (anggap saja) Fanji
Fanji mengendap. Dia melepas sepatunya. Gerakan itu membuat buruannya kabur. Ia menunjuk pergerakan serupa huruf S pada genangan air sawah di sela-sela tanaman padi yang masih imut-imut. Tahu-tahu ia meloncat menerkam Si Ular. Begitu cepatnya sehingga harus di slow motion. Ia bergumul dan bergulung. Kameramen yang amat terinspirasi seri film Bourne tak menyiakan kesempatan, ia langsung mengocak-ocak kamera tiada karuan. Kamu pun langsung ikut merasa tegang sekaligus bingung dengan apa yang terjadi. Berhubung tayangan yang tersaji seperti diambil langsung oleh Muhammad Ali. Satu-satunya hal yang Si Kameramen sukai dari Petualangan Fanji adalah bagian ini, karena ia merasa berbakat di sini. Ia heran mengapa Paul Green-Grass tidak kunjung merekrut dia.

Pergumulan memakan durasi hingga nyaris sepuluh menitan. Sawah yang ia terjang pun hancur kabur tak tentu rupa. Baju dan muka Fanji terhiasi lumpur. Tiba-tiba ia tak bergerak dalam posisi tengkurap. Perasaanmu teraduk-aduk campur baur. Apakah Fanji baik-baik saja? Tanyamu dalam hati.

Fanji bangkit. Dia terlihat sumringah, bahagia layaknya seorang ayah menggendong anak pertamanya, ia tengah menggenggam leher ular sawah! Dari ekspresinya ular malang itu kelihatan kesal karena ia sudah terlambat untuk kencan dengan ceweknya, tapi apa daya ternyata Fanji lebih ingin berkencan dengannya.

Fanji lalu memberi ceramah ilmu tentang ular dengan gaya meyakinkan namun entah mengapa tidak betul-betul membuatmu yakin. Tapi toh Kamu mengiyakan saja.
“Liat pemirsa, ini namanya ular sawah. Disebut ular sawah karena…ia tinggal di sawah. Kalo dia tinggal di rumah maka namanya jadi ular rumah,” ujar Fanji bangga. “Sama sepreti kuda laut, anjing laut, atau burung gereja, mereka disebut begitu karena habitatnya memang di situ.”

Kameramen geleng-geleng kepala. Kamu tahu itu karena kamera juga jadi ikut gerak ke kiri ke kanan. Dalam hati Si Kameramen berdoa agar Tuhan mengampuni kesoktahuan Fanji.
“Kenapa kamu?!!” bentak Fanji heran pada kelakukan Kameramen.
“Ah nggak, cuma biar lebih dramatis aja.” jawab Kameramen. Entah mengapa Kamu yang dirumah bisa mendengar perdebatan ini. Mungkin disengaja oleh tim produksi demi menambah kesan realistik.

Dengan keterampilan tingkat tinggi Fanji lalu membuka rahang ular hanya menggunakan kelingking kirinya. Ia meminta Kameramen mendekat agar Kamu yang duduk resah dan khawatir akan keselamatan Fanji bisa melihat apa yang membuat makhluk melata ini mengagumkan di mata Fanji dan juga bagi Rob Bredl, tapi kameramen yang takut sama ular mengambil gambar dari jarak sepuluh jangkah. Ia memaksimalkan digital zoom in sampai mentok. Hasilnya? Gambar yang absurd. Kamu melihat butir-butir serupa biji jagung berwarna tidak jelas, kekuningan juga kecoklatan.

Ular yang malang
Ternyata yang di zoom in adalah giginya Fanji. Pantesan!

Kameramen langsung meralat. “Aduh, sori sori.” Lagi-lagi Kamu bisa mendengar ini. Kamera akhirnya membidik gigi taring si ular sebelum wajah Fanji menjadi terlalu merah. Kali ini cukup sukses dan telak. Gigi taring ular itu kecil, paling tidak jika dibandingkan gigimu sendiri. Tapi jelas amat sangat tajam dan berbahaya, jauh lebih gawat darurat dari pada giginya vampir-vampir di Twailait saga.

“Kalau sampai anda pemirsa di rumah digigit ini ular, anda bahkan tidak akan punya kesempatan untuk berkedip. Matahari yang anda lihat hari itu bakal jadi matahari terakhir yang anda lihat.” Senyuman Fanji membuat bulu alismu berdiri.

Ketika nuansa hororisme itu tengah ditebar. Lolongan seseorang meledak mendadak mengagetkan Kamu, Kameramen, dan Fanji. “Hoi, ngapain kamu nginjak-nginjak sawahku?!!!” Itu bisa dipastikan suara yang punya sawah yang jauh lebih horor dari pada analisis Fanji.

Ular sawah yang kangen berat sama pacarnya itu lepas dari genggaman Fanji. Kamera pun jatuh dari tangan Kameramen. Kamu bisa melihat Si Kameramen, yang sekarang sudah bukan Kameramen lagi, ia lari tersruntul-sruntul menjadi Lari-Man jauh meninggalkan sawah, jauh meninggalkan Fanji.

Fanji pun hendak lari, tapi gerak refleknya tertunda gara-gara takut dicium ular yang baru lepas dari tangannya, dia terjebak lumpur sawah dan barangkali juga terlilit doa kutukan tanaman padi yang teraniaya oleh ulahnya. Fanji jatuh bergedebum. Terlambat sudah, terlambat sudah.

...


Lima belas menit terakhir durasi Petualangan Fanji pun diisi Fanji yang betul-betul bertualang menanami kembali padi di lahan yang bagai dilanda pertempuran. Peluh Fanji bukan hanya sebesar biji jagung tapi sebesar bonggol jagung.  Sementara Si Empunya sawah gantian memegangi kamera. Sesekali ia mengarahkan kamera ke wajahnya, memamerkan raut kemenangan, lalu mencobai berbagai efek di kamera yang membuat matamu merana, semerana hati Fanji hari itu. Bagi Fanji matahari hari itu seolah menjadi yang terakhir yang bisa ia lihat.

Jangan sampai kuwalat sama padi

Disklaimer:
Kisah sesat ini tidak ada hubungannya dengan karakter sebenarnya dalam kehidupan nyata walau sesungguhnya ada unsur kebetulan yang disengaja dalam kenyataan pahit ini.

0 komentar: