Meskipun Terik, Nusa Penida Memang Menarik

Sudah lama aku mendengar tentang Nusa Penida, sebuah pulau yang katanya gersang dan puanas. Sebuah pulau yang menurut seorang teman yang asli Bali, "tidak ada-apa di sana" selain batu kapur dan penangkaran penyu, sehingga tidak worthy untuk dikunjungi.

Namun, akhirnya kesempatan menyambangi pulau kecil di sisi tenggara pulau Bali ini pada Desember 2023 kesampaian juga bareng rekan kerja se-Prodi. Entah siapa yang usul, pastilah dia pernah melihat postingan keindahan Nusa Penida di medsos. Paket perjalanan untuk Nusa Penida sisi barat langsung dipesan, seorangnya seharga Rp400an, termasuk tiket kapal bolak-balik, makan sekali, dan dua buah mobil plus sopirnya yang merangkap pemandu.

Pelabuhan Sanur pagi hari

Pagi-pagi sekali kami sudah dijemput dari hotel di daerah Seminyak (iya, harga termasuk penjemputan dari hotel). Karena terlalu pagi ini pula kami belum sempat menikmati sarapan hotel secara sepantasnya. Oleh pihak hotel kami dibungkuskan sesuatu yang kami sangka nasi dan lauk pauknya, tapi ternyata...

sandwich isi timun, tomat, dan telur plus buah

Pelabuhan Sanur, titik berangkat dari Pulau Bali ke Pulau Nusa Penida sangat padat pagi itu. Rombongan kami menunggu cukup lama. Telinga ini harus awas menyimak pengumuman dari pemandu yang bisa sangat acak itu. Mereka mengumumkan travel mana yang bisa berangkat sesuai dengan kalung penanda travel yang tadi sudah diberikan sejak awal begitu sampai (warna lanyar juga berpengaruh), karena titik tujuan juga bisa berbeda. 

Pihak travel membagikan semacam tiket yang memuat nama. Dapat nama yang random juga. Intinya nama ini tidak berpengaruh wong duduknya di kapal juga tidak pakai nomor. Kami gunakan nama ini buat guyonan. 

Alur masuk ke pelabuhan sangat aneh. Masuk antri, naik tangga ke lantai 2, lalu turun tangga lagi ke lantai dasar. 

Kalau sudah sampai dermaga tinggal ikuti arus dan pastikan tidak salah naik kapal

Di Dermaga ada banyak kapal. Tidak perlu khawatir salah naik karena nama kapal sesuai dengan kartu lanyar yang tadi dibagikan.

Ombak besar menuju Nusa Penida

Ketika kapal berangkat dari Sanur terjadi pemandangan yang bagiku sangat menakjubkan. Sekian banyak kapal keluar dari pelabuhan, beriringan, lalu berpisah ke tujuan masing-masing. Ombak memang besar tapi masih kalah besar dengan ombak sore hari ketika kami kembali ke Sanur dari Nusa Penida. Durasi berangkat lebih dari 1 jam padahal konon hanya 45 menit. Aku sempat tertidur karena tadi menenggak seperempat butir Antimo, maklum aku takut mabok laut. Menurut seorang rekan mereka sempat melihat lumba-lumba bermain di sekitar kapal. Mungkin seharusnya aku tidak tertidur.


Sampai di Nusa Penida (sisi timur Sampalan)

Pelabuhan Sampalan yang ternyata lokasinya cukup jauh dari lokasi wisata di Nusa Penida Barat

Kami disambut dua orang pemandu yang sekaligus sopir, mereka berasal dari Jawa Tengah. Kami menyapa mereka dengan "Bli" tapi ternyata mereka bisa bahasa Jawa, jadi kami panggil "Mas". Mobilnya APV. Bisa kubilang mereka jago nyetir. Jalanan di Nusa Penida cukup mulus (kecuali ketika mendekati Angel's Billabong), hanya saja jalannya boleh dikatakan cukup ekstrim, naik turun, belak-belok, sempit, mengingatkan pada kondisi jalan di Gunung Kidul, Jogja. Berhubung aku dapat rombongan yang isinya cowok semua jadilah ujung-ujungnya pembicaraan agak cabul ketika mereka kemudian secara terbuka bercerita telah beberapa kali mengencani (baca: meniduri) turis dari luar (Eropa, Afrika, maupun Asia).

Seperti sudah kusebut, kami cuma sarapan sandwich. Sehingga kami menuntut mampir makan dulu, jauh sebelum jamnya makan siang. Mobil berhenti di sebuah rumah makan (warung) kecil di tepi jalan yang memang menjadi bagian dari paket perjalanan. Menunya sederhana. Harganya? Tidak tahu. Namanya juga paketan. Tapi tempatnya lumayan nyaman. Sejujurnya rasa lapar mengalahkan minat kami untuk menjelajahi pulau itu. Ketika itu aku ingin sekali balik ke hotel untuk sekadar rebahan, karena belum-belum sudah merasa capek dan kegerahan. Plus kelaparan itu tadi.

Mampir di Warung

Mie nyemek seadanya, no expectation. Tetap bersyukur yang penting gak kelaparan.

Tapi tentu saja perjalanan harus berlanjut setelah beberapa kali Mas-Mas Sopir menglakson kami agar lekas bergegas...ke pantai Kelingking.

Jalan turun ke tebing Kelingking

Pantai Kelingking di bawah sana. Kelihatan overexposure? Iya, itu sudah siang. Pas jam 12 siang. Ketika Nusa Penida sedang terik-teriknya. Bisa sih kalau mau turun (1 jam jalan kaki katanya) tapi pemandunya bilang pernah ada yang mati gegara kepanasan.

Duduk-duduk di sebuah warung. Hati-hati, harga minuman/makanan bisa sangat mahal. Aku cuma duduk-duduk saja. 

Dari Pantai Kelingking kami meluncur ke Angel's Billabong dan Broken Beach yang jadi satu kawasan. Jalan menjelang ke lokasi rusak parah. Mobilnya berasa dipmbang-ambing ayun-ayunkan dengan perlahan...

Jalan menurun ke Angel's Billabong. Beberapa rekan sudah menyerah, tidak mau meneruskan. Sungguh sebuah kerugian.

Papan peringatan bahwa lokasi ini berbahaya

Billabong yang mengingatkan seperti kolam di Pantai Wediombo yang juga berbahaya

Dari sini, kedua pemandu mengarahkan kami ke Broken Beach yang memang istimewa...tidak, bukan hanya memang istimewa, tapi sangat istimewa dan ikonik, selain Pantai Kelingking tentunya.

Ada beberapa titik yang layak difoto termasuk di sini

Pantainya tidak bisa diakses, hanya bisa dikagumi dari atas tebing

Mulut pantai yang "broken"

Tumpukan sampah yang ditinggalkan makhluk sampah yang tidak menghargai lingkungan dan keindahan alam

Foto bareng di hadapan Broken Beach

Setelah beristirahat selanjutnya kami balik ke pelabuhan dengan terlebih dulu mampir di pantai Bubu yang menghadap langsung ke Pulau Bali...

Tepi jalan Bubu Beach

Pemandangan pantai yang tenang. Bisa dibayangkan keindahan tempat ini jika malam. Kerlip lampu di Pulau Bali pastilah memukau.

Entah kenapa ada ayunan di situ. Btw, ini sudah jam 15.

Setelah hanya duduk-duduk dan bermain air laut sejenak, saatnya kami berpisah dengan Nusa Penida yang walau memang terik namun memikat dan pastinya cantik.  

Keramaian pelabuhan Sampalan saat sore

Akankah aku balik ke sana lagi? Mungkin suatu saat nanti. Semoga jalannya sudah lebih baik kondisinya.




 
















Cara Kuno Promosi Kampus

Tersebutlah sebuah kampus yang sudah berstatus negeri di sebuah kota di Jawa Timur. Kampus ini telah beroleh akreditasi A  dari BANPT, sudah BLU juga, tahun ini akan maju ke PTNBH. Tapi dikarenakan target mahasiswa barunya tidak tercapai, maka dititahkanlah oleh pimpinannya bahwa cara untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan berkeliling provinsi mendatangi sekolah demi sekolah, berpromosi door to door. Yep, just like old times, those classic times. From the era before internet.

Kalau itu belum cukup terdengar megah (megahi?). Kamu harus tahu, siapa yang ditugaskan untuk berkeliling itu. Nope, bukan mahasiswa, no, bukan influencer, melainkan para dosennya! Para pejabat struktural mulai dekan, hingga Kaprodi, termasuk Kalab juga dilibatkan.

Postingan di Instagram yang dengan bangganya menyebut beberapa kabupaten yang dikunjungi

Desember lalu rencana ini digulirkan secara mendadak (ya, tentu saja, apa sih yang tidak mendadak di kampus ini?). Sedianya kami akan diberangkatkan pada akhir Desember sebelum Tahun Baru 2024. Namun secara mendadak pula rencana dibatalkan. Alasannya ketidaksiapan sekolah yang akan dikunjungi. 

Nyatanya berdasar cerita singkat dari dua rekan kerja yang baru saja ditugaskan melakukan promosi selama 3 hari ke Madiun, sekolah yang dituju juga belum siap, atau lebih tepatnya tim yang datang ke sana bagaikan 'menodong' untuk minta waktu supaya bisa promosi. Jadi SMA dan MA yang didatangi itu belum diminta kesediaannya untuk menerima rombongan promosi, Bung. Kenapa begitu? Konon tim penanggung jawab yang tidak bertanggung jawab itu tidak punya atau tidak menemukan nomor kontak dari sekolah yang dituju. Terdengar konyol? Tapi ya itu sungguhan terjadi. Di era di mana data pribadi malah sengaja diumbar, mereka tidak bisa mendapatkan nomor kontak dari sekolah yang disasar. Can you belive it?

Jadwal roadshow di Madiun (perhatikan yang ditandai kuning). Yang ditandai kuning artinya belum konfirmasi bahwa mereka bisa menerima rombongan

Jadilah rekan kerja ini disenga'i oleh pihak sekolah yang merasa, "kok, tahu-tahu kalian datang tanpa undangan dan ingin kami menyediakan waktu buat kalian promosi?". 

Menurutku adalah amat sangat wajar jika mereka bersikap demikian. Kita juga akan begitu bukan, jika ada orang tidak dikenal tahu-tahu datang ke rumah lantas menyampaikan hajatnya? Tentunya (untungnya?) tidak semuanya. Ada juga yang menyambut baik kedatangan tim promosi yang cuma menjalankan tugas kampus ini.

Komentar dari salah satu dosen pada postingan di atas 

Menurut rekan kerjaku ini ada sejumlah pihak sekolah yang didatangi keheranan. Di antaranya sebagai berikut: 

"Kenapa yang datang harus dosennya? Kenapa bukan mahasiswanya."


"Kenapa kampus negeri melakukan promosi seperti ini, seperti kampus masih swasta saja."


"Kenapa yang didatangi malah SMK yang lulusannya diproyeksikan langsung bekerja?"


Terhadap pertanyaan itu, rekan kerjaku ini cuma bisa menjawab normatif. Pada intinya dia, kami semua (aku juga ditugaskan untuk berangkat promosi) hanya menjalankan tugas. Apalah daya kami sebagai bawahan yang mungkin sulit didengar oleh para pimpinan yang konon cerdas dan tahu betul apa yang terbaik buat kampusnya.

...

Catatan akhir:


Kami sesama dosen sempat berdiskusi dan sepakat bahwa promosi klasik seperti ini sudah bukan lagi cara yang tepat di era saat ini. Karena pasti tidak menarik dan tidak menggugah keinginan calon mahasiswa baru untuk berkuliah. 

Para pimpinan seyogyanya mau bercermin dan mengevaluasi diri, apa penyebab turunnya minat camaba mendaftar di kampus ini? Barangkali ada banyak kabar yang bertebaran di luar sana yang bernada negatif yang membuat camaba urung niat ke sini.

Dana yang pastinya tidak sedikit itu bisa digunakan untuk berpromosi dengan cara yang lebih efektif.

 Daripada mengirim dosen ke Lamongan, Gresik, Jombang, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, Ngawi, dst. (karena touring ini belum berakhir, masih ada kabupaten di sisi timur dan masih ada Madura), lebih baik uangnya digunakan bayar influencer untuk bikin konten kreatif yang mempromosikan kampus. Apalagi memang ada influencer dan youtuber sukses yang jadi mahasiswa di kampus ini. Yang bisa dilakukan selanjutnya adalah menghelat lomba tingkat nasional untuk siswa SMA atau yang sederajat, di mana finalnya diadakan di area kampus, hadiahnya adalah gratis UKT atau beasiswa. 

Tapi apalah daya kami, kami cuma keset. Entah apa yang dilakukan orang-orang penting dan ngerasa sok penting di sekitaran para pimpinan itu, orang-orang yang rela jadi keleknya pimpinan. Apa-apa pasti diiyain. YES BOSS! Mental-mental yes boss masih saja diberi ruang di dalam kampus.


Kecurangan Nilai Wawancara dan Microteaching PPPK

Di Indonesia, kecurangan pewawancara dalam memberi nilai CPNS dan Calon PPPK dosen pada saat tes microteaching dan wawancara masih dianggap biasa dan masih terjadi. Ingat ketika itu pernah menyebar twit seorang pengguna yang ditikung di akhir di tahap wawancara? Kali ini terjadi kepadaku.

Screenshot twit @alhrkn. Sumber: https://twitter.com/alhrkn/status/1474925007297921026

Aku melamar posisi PPPK formasi khusus di sebuah kampus di sebuah kota besar di Jawa Timur yang memang aku bekerja di sana sejak 2020. Formasi khusus artinya memang ditujukan buat yang belum berstatus ASN. Formasi ini hanya dibuka untuk satu orang tapi ada tiga orang yang berstatus pegawai tetap termasuk aku. Iya, kami semua ordal.

Mumpung kesempatannya ada ya aku coba. Apalagi Rektor sudah bertitah bahwa semua yang masih Non-ASN harus jadi ASN, entah lewat CPNS ataupun CPPPK. Kenapa? Karena kami semua dianggap membebani keuangan kampus apalagi ketika nanti berstatus PTNBH. Sekadar informasi, formasi pendidikan yang diminta memang tidak sesuai dengan latar S-2 ku. Tapi nyatanya toh lolos administratif. Begitu juga dua rekan kerjaku yang latar pendidikannya juga sama-sama tidak sesuai.

Kudengar ada dosen dari luar kampus yang coba daftar tapi dia gagal karena salah satu syaratnya adalah punya surat keterangan bekerja di kampus tersebut yang ditandatangani pejabat/atasan. Orang ini penting untuk kusebut karena ada hubungannya (nanti balik lagi ke sini).

Untuk mempersiapkan diri, aku sampai beli dua buku tentang PPPK guru dan dosen (online). Aku belajar sungguhan dan aku tekuni sampai larut malam di tengah kesibukan, juga menyimak video di YouTube yang sebetulnya tidak cukup membantu. Sebagai informasi, tesnya berbeda dengan CPNS. Terdiri dari teknis, manajerial, sosial kultural, & wawancara. Ada juga soal penalaran.

Ketika menjalani SKD PPPK online di sebuah kampus, aku terkejut ternyata ada soal bahasa Inggris (di buku yang dibeli tidak ada sama sekali menyebut soal bahasa Inggris). Meski begitu aku masih bisa menjawabnya (skor 75, cukup baik).  Total nilai yang bisa kuraih adalah 489.

Dua rekan dosen lain, skornya 461 dan 350. Artinya posisiku adalah nomor satu. Katanya ada passing grade tapi ternyata tidak berlaku/tidak menggugurkan bagi pelamar formasi khusus. Di sini sudah terlihat bahwa posisi ini memang untuk mengakomodasi ordal.

Pengumuman jadwal wawancara dan microteaching

Menjelang tanggal tes microteaching dan wawancara tersebar perkiraan siapa yang akan mewawancarai kami, yaitu wadek 2 & 3 fakultas tempat kami kerja. Sebagian rekan kerja lain yang sudah lama kerja di situ (sudah ASN)  mulai menduga bakal ada main mata antara pewawancara dengan salah seorang pesaing. Pasalnya wadek 3 adalah teman baik salah seorang pesaingku yang total nilainya 461 (posisi kedua). Tapi aku tetap berpikir positif dan mengabaikan kecurigaan rekan-rekan kerja.

Saat selesai wawancara online, hasilnya bisa langsung dilihat di livescore (yang hanya bertahan sehari saja). Ternyata nilaiku 'hanya' 21,5. Sementara pesaingku mendapatkan 25, yang mana adalah nilai maksimal. Rekan-rekan kerja lain menyemangatiku agar saat microteaching nanti pakai bahasa Inggris.

Ya sudah, tidak ada salahnya. Sekurangnya slide materi microteaching dalam bahasa Inggris. Bisa bantu IKU. Aku siapkan materi sederhana dengan alat peraga offline maupun online. Hasilnya, nilaiku 'hanya' 20,5, pesaingku lagi-lagi dapat nilai maksimal, 25. Nilai milikku bahkan masih di bawah nilai rekan lain yang ikut tes CPNS tahun ini.  Bohong jika aku mengatakan itu tidak ada pengaruhnya, tentu aku sempat merasa minder, 'apa memang sepayah itukah ngajarku?' Tapi ya berusaha tetap optimis.

Tanggal 24 Des, pengumuman PPPK 2033 itu terbit.  Namaku jadi urutan kedua, yang artinya pesaingku inilah yang lolos. Kecewa? Pasti. Marah? Sangat.

screenshot pengumuman akhir PPPK 2023

Angka total yang muncul di pengumuman juga sebetulnya agak aneh. Seperti punya algoritma khusus yang entah dari mana asalnya. Aku tidak tahu dari mana nilai "teknik" dan "murni" berasal. Kalau nilai Sosio, Manajerial, Wawancara itu memang benar nilai yang kuperoleh seusai SKD. Mungkinkah memang ada hitungan spesial berdasarkan jabatan fungsional dan lama masa kerja?

Jika memang iya, pesaingku ini memang lebih lama mengajar di situ dan jabatan fungsionalnya lebih tinggi daripada aku yang cuma AA.

Tapi... pesaingku lainnya yang nilai SKD PPPK nya 350 (posisi tiga) jauh lebih lama ngajarnya di situ. Jika memang urut kacang kenapa tidak dia saja yang dinaikkan, sisanya dijatuhkan?

Jika memang ada hitungan khusus, mengapa pula nilaiku mesti dipangkas dan pesaingku yang sudah kalah nilai SKDnya justru dimaksimalkan? Jika memang ada hitungan khusus mengapa tidak diterakan di awal sehingga bisa diawasi dan transparan.

Sebagai informasi, pesaingku ini pada bukaan CPNS tahun lalu juga dibantu nilai wawancara dan microteachingnya oleh dua pewawancara yang sama (saat itu dia belum menjabat sebagai Wadek 3, dia hanya dosen biasa). Nilainya 98! Sementara pesaingnya hanya 68! Tahun lalu adalah batas umurnya untuk bisa melamar CPNS.

Sayangnya dia tidak lolos passing grade SKB bahasa Inggris. Itu makanya dia gagal jadi PNS dan itu sebabnya dia ikutan PPPK tahun ini.

Alhasil pelamar yang nilainya sudah dijatuhkan sampai ke angka 68 itulah yang lolos dan jadi PNS. Ironisnya jadi rekan kerja kami yang paling andal.

Ingat tadi ada dosen luar kampus yang mencoba melamar posisi ini? Dia adalah suami dari pesaing yang akhirnya lolos PPPK ini. Lucu ya?

Kurasa aku ingin menemui kedua pewawancara yang notabene atasanku itu lalu mempertanyakan alasan nilaiku sampai sejatuh itu, semacam konfirmasi. Yang mana mendorongku untuk curiga bahwa mereka sudah tahu cara hitung hitungannya sehingga nilaiku sengaja dibuat nanggung sedangkan pesaingku sebaliknya: ngepoll.

Sampai itu terjadi, untuk sementara ini aku bisa simpulkan: jadi ordal tidak cukup kalau pesaingmu adalah adalah ordal yang posisinya lebih tinggi/dekat dengan pewawancara. Di atas ordal masih ada ordal lain.

Btw, kehebohan tes microteaching dan wawancara CPNS tahun lalu itulah agaknya yang mendorong pengubahan urutan tes. Di mana tahun ini SKB baru dilaksanakan sesudah wawancara dan microteaching.

Aku pun jadi bertanya-tanya, kira-kira gimana perasaan pesaingku itu, dia lolos PPPK gara-gara dibantu temannya. Apa gak bakal merasa utang budi selamanya? Aku pun juga bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiran pewawancara, pembenaran apa yang ada di benak mereka ketika melakukan itu? Tidakkah barokah posisi jabatan/status PPPK-nya yang mana menurun ke keberkahan penghasilnnya? Bahwa dia mendapatkan penghasilan secara tidak langsung dari mencurangi orang lain. Tidakkah takut akan tertimpa 'hidayah' yang bisa datang dalam bentuk apapun dan kapanpun tanpa mereka sadari?

"Sudah biasa, dari dulu juga begitu.' Abuse power sudah biasa. 

sempet curhat di twitter, tapi tentunya tidak akan pernah bisa viral 😶.