Obsesi Anti Plastik

Suatu kali datanglah dua orang asesor akreditasi akademik asal Jerman ke sebuah kampus di Surabaya untuk mengasesi sebuah Prodi. Ketika disuguhi minum air dengan air botolan, mereka menolak meminumnya karena botolnya terbuat dari plastik. Panitia yang merasa belum diberi peringatan tentang ini pun kelimpungan. Mereka buru-buru ke minimarket berupaya mencari air botolan juga...tapi yang terbuat dari kaca merek Aqua.

Akua, air kencing kuda, harganya lima ratus saja...(tahu plesetan jingle ini?)

Akibat terlampau gopuh inilah mereka malah keliru membeli Aqua berkarbonasi, yang mana sekilas sama kemasannya dengan air minum botolan kaca, terlebih namanya mirip-mirip. 

Solusinya?

Salah seorang panitia berinisiatif menuangkan air botolan plastik yang ditolak duo asesor tadi ke teko kaca ditemani gelas kaca untuk kemudian disuguhkan. Mereka meminumnya!

Apa mereka tahu itu air yang sama dengan yang barusan mereka tolak? Tidak tahu juga. Jerman toh memang melarang penggunaan plastik sekali pakai sejak 2021. Apakah ini jadi pengetahuan umum bagi segenap warga dunia? Tidak tahu juga (sebagian panitia akreditasi mungkin baru tahu). Apakah mereka butuh untuk menunjukkan itu ketika datang ke negara "dunia ketiga"? Tidak tahu juga. Apakah mereka merasa sebagai representasi Jerman harus menunjukkan bahwa mereka patuh pada peraturan negaranya yang perlu dibawa-bawa ke luar negeri? Tidak tahu juga. Apakah ada aroma white man's burden soal isu lingkungan? Tidak tahu juga. Ataukah memang itu prinsip pribadi yaitu untuk menolak "menggunakan plastik"? Tidak tahu juga.

plastik is gay
Gambar di-prompt "anti plastic movement protest" dari Bing Image Creator. Ngapain coba ada bendera LGHDTV nongol di situ? Smh

Omong-omong di Surabaya juga ada peraturan yang melarang penggunaan plastik sekali pakai sejak 2022. Secara khusus peraturan ini terasa dan diterapkan hanya di supermarket/swalayan dan minimarket. Terlihat dari adanya pemberitahuan "tidak menyediakan kantong plastik" entah di pintu masuk atau di dekat meja kasir. Konsumen jadi terbiasa, tote bag atau paper bag lumrah dipakai (juga jadi lahan jualan kedua benda itu bagi pihak supermarket). Dalihnya adalah gimmick semacam "sayangi lingkungan", walau kita tidak pernah tahu apakah si tote/paper bag bakal berakhir di tumpukan sampah atau tidak.

Peraturan seperti ini punya asumsi bahwa yang bersalah dan dituding menjadi penyebab rusaknya lingkungan akibat sampah adalah konsumen. 

Namun mau sampai kapan konsumen harus terus-menerus disuruh bertanggung jawab terhadap kantong belanjaan? Kenapa bukan dunia industrinya yang diminta memakai kantong lain yang mudah hancur atau terurai? Kenapa sampai sekarang belum ada pengganti yang lebih mumpuni dari plastik?   




Ending yang Ideal Buat film 1408

Baru saja aku sempat menonton film 1408 yang dibintangi John Cusack. Sebuah film genre psychological horror yang premisnya adalah tentang seorang penulis kisah horror tapi sebetulnya dia sendiri skeptis dengan segala hal yang bersifat supranatural/perhantuan. Yang dia lakukan adalah menyambangi dan menginap di tempat-tempat yang konon menyeramkan kemudian menjadikannya sebagai bahan tulisan. Suatu hari dia mendapati kiriman kartu pos yang memeringatkannya agar tidak menginap di hotel The Dolphin kamar nomor 1408, yang malah memantik rasa penasarannya. Seperti sudah bisa diduga dia lantas menginap di kamar itu lalu mendapati situasi yang mencekam dan mengancam kondisi mentalnya: dia terjebak di dalamnya! Soal penyebab sikap sinis dan skeptisnya Si Mike (sesuatu yang berkaitan dengan masa lalunya) ini dikupas perlahan dalam film yang mana menjadi alasan dia akhirnya 'sukses keluar' dari kamar itu. 

Memang ini masuk kategori film 'lawas' yang dirilis 2007 tapi aku baru tertarik menonton setelah melihat cuplikan salah satu adegannya di 9gag. Adegan di mana si karakter utama, Mike Enslin meminta tolong ke penghuni gedung seberang hotel dengan melambaikan tangan namun ternyata dia melambai kepada seorang yang bentukannya persis seperti dirinya (sampai ke gerakan minta tolongnya juga sama, bak berdiri di cermin). Bukan itu saja, kembarannya ini juga dibunuh sosok misterius!

mirrored waving scene & mysterious killer

Total ada empat ending alternatif dari film ini, belum termasuk ending asli dari cerita pendek karya Stephen King, yang mana film ini adalah adaptasi darinya. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan sendiri.

Spoiler Alert!

(1) Ending cerita pendek mengisahkan, setelah Mike Enslin selamat dari kebakaran kamar 1408, dia menderita trauma: selalu menutup tirai sebelum gelap, takut warna kuning (kayak Green Lantern aja!), dan selalu tidur dalam kondisi lampu menyala (ini mah masih dilakukan orang dewasa juga).

(2) Ending teatrikal memperlihatkan Mike Enslin yang selamat dari kebakaran kamar 1408. Dia menyetel rekaman kaset yang memperdengarkan suara putrinya. Istrinya juga mendengar suara tersebut yang mana mengkonfirmasi pengalaman nyata Mike selama terjebak di dalam kamar. (3) Alternatif lain masih sama hanya saja memperlihatkan bahwa istrinya tidak bisa ikut mendengar suara putrinya dari rekaman kaset tersebut.

(4) Ending alternatif memperlihatkan Mike Enslin tidak selamat dari kamar 1408, tapi editor bukunya menerima kiriman draft buku yang ditulis oleh Mike selama terjebak di dalam dimensi lain kamar itu.

(5) Ending versi sutradara (Mikael HÃ¥fström) memperlihatkan Mike Enslin mati dalam kebakaran. Istri dan teman-temannya turut menghantarkan jenazahnya ke pemakaman. Lalu manajer hotel The Dolphin (Gerald Olin), yang diperankan Samuel L. "mutafucka" Jackson bermaksud memberikan rekaman kaset yang ditemukan dalam kamar setelah kebakaran, tapi istrinya Mike menolak menerimanya. Pada puing kamar 1408 arwahnya Mike Enslin terlihat puas karena bisa mengalahkan entitas jahat di kamar 1408. 

Ending ideal menurutku:

Menurutku ending paling mendekati masuk akal berdasarkan nalar yang dibangun filmnya adalah yang versi sutradara, dengan alasan bahwa kamar 1408 tidak pernah membiarkan penghuninya selamat: Mike Enslin mati dalam kebakaran, tapiii... alangkah lebih baik jika Si Istri mau menerima paket dari Olin yang berisi salah satunya rekaman kaset. Lalu di saat senggangnya atau di saat sudah mulai sembuh dari luka hati, Si Istri menyetel rekaman dan mendengar suara putrinya. Aku yakin ini akan lebih berdampak dan lebih sempurna nan ideal, karena ending ini akan menggabungkan ending versi Sutradara (5) dengan ending teatrikal (2) sekaligus.

ending ideal



Membandingkan Janji Capres 2024 di Bidang Pendidikan

Sebagai seorang buruh ajar/kuli ajar sejak 2019, hal yang paling kuperhatikan adalah bidang pendidikan utamanya pendidikan tinggi, yang ketika tulisan ini diketik masuk ke wilayahnya Mendikburistek. Makanya aku niatkan akan memilih paslon capres dan cawapres yang paling jelas dan konkret programnya (baca: janjinya). Setelah mencari info sedemikian lama, akhirnya menemukan satu postingan di Instagram di akun @warstek_com yang bisa disimak di sini (kalau belum dihapus).

Ketikan ini aku buat selain buat analisis dan pertimbangan pribadi juga sebagai dokumentasi untuk menagih janji kepada siapapun yang menjadi presiden nanti, walaupun aku mungkin tidak memberikan suaraku kepada mereka.

Aku juga menyimak debat terakhir (debat kelima) dari capres dan cawapres pada 4 Februari 2024 untuk mendengar langsung janji mereka, yang mana harus berakhir dengan kekecewaan, sebab masalah pendidikan hanya disentuh sedikit saja, terselip di antara tumpukan tema lain: Kesejahteraan Sosial, Kebudayaan, Pendidikan, Teknologi Informasi, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sumber Daya Manusia, dan Inklusi.

Oke, langsung mulai saja. Aku komentari yang perlu dikomentari dan hanya yang relevan dengan pekerjaan dosen saja. 

.......................

Paslon 1: Anies dan Muhaimin

program paslon no 1

Peningkatan dana di poin 1 sebetulnya sudah terjadi bertahap. Poin 4 juga sudah ada untuk riset berkelanjutan. Yang bermasalah dari riset adalah bukan besaran bilangan tapi penghalang adminstratif (misal: jabatan fungsional dosen dan status yang masih CPNS) yang mana mungkin  disasar pada poin 6. Semoga yang dimaksud adalah kemudahan ajuan riset, dan kemudahan proses pelaporannya.

Poin no 2 sangat akurat. Beban administrasi memang berlebihan. Sudah jadi hal yang lumrah buat dosen untuk melaporkan kinerja sebagai "beban lebih". Kalau aku kerap bergurau, bahwa pekerjaan dosen bukan hanya Tridharma (mengajar, meneliti, mengabdi ke masyarakat) plus penunjang (menjadi panitia acara, menyusun borang akreditasi, dll.), tapi juga membuat laporan-laporan bukti kinerja dari ketiga hal di atas. Aku ingin tahu implementasinya bagaimana, karena tidak mudah mengatasi ini. Cengkeraman paling kuat atas dosen adalah pihak kampus. Walau Dikburistek bilang beban maksimal adalah 16 SKS persemester pada praktiknya tidak demikian.

Poin 3 sudah terjadi di kampus BLU yang menerapkan sistem remunerasi yang berbasis kinerja. Tapi sistemnya dibatasi golongan, jabatan fungsional, dan struktural. Padahal dosen yang baru masuk bukan berarti tidak berkinerja. Reward juga ada di kampus yang masih Satker apalagi PTNBH. Masing-masing punya aturan internal soal reward

Poin 5 akurat karena memang ada sebegitu banyak aplikasi yang berkenaan dengan pendidikan tinggi. Belum lagi aplikasi buatan internal kampus. Meski begitu kondisi aplikasi ini sudah jauh lebih baik dari waktu ke waktu dan terus diperbaiki.

Poin 7 bukan hanya jumlah tapi sekali lagi syarat administratif terutama pembatasan umur untuk studi lanjut. Andai batas usia yang juga dikedepankan akan lebih bagus.

Penghargaan di poin 8 sebetulnya tidak begitu mendesak. Kita sama-sama tahu selama ini semua penghargaan itu diada-adakan (alias proyek), persis seperti yang kerap dialamatkan rival paslon 1 kepada mereka. Poin 8 maksudnya adalah rekognisi dan memotivasi, atau semacam kebanggaan. Tapi kebanggaan dosen sejatinya adalah berkarya dan karyanya diakui. Pengakuan umum bisa macam-macam, misalnya sesederhana disitasi/dikutip dalam tulisan lain.

Poin 9-12 sedang terjadi dan terus diperbaiki saat ini sehingga tidak perlu dikomentari. 

.......................

Paslon 2: Prabowo dan Gibran


janji paslon no 2

Seperti yang jadi fokus paslon ini untuk tema lainnya yang berkutat pada "makan gratis" maka di bidang pendidikan yang jadi prioritas adalah motif ekonomi dosen (kesejahteraan dari segi biaya hidup) yang solusinya adalah menaikkan gaji secara layak yaitu berdasarkan UMP. Yang memang masih banyak dosen digaji di bawah UMP. Bukan berarti menolak, tapi program ini terlalu menyederhanakan masalah. Seolah ini hanya masalah duit. Tidak satupun tertulis "bebas administrasi" dan "tupoksi" dosen, yang mana agak mengecewakan bagiku. Meski begitu ada janji rekrutmen bebasis meritokrasi, yang tentunya bagus, walau mungkin sulit diwujudkan kalau sadar KKN sebetulnya juga tumbuh di lingkungan kampus, dan entah bagaimana langkah konkretnya. Mungkin juga yang dimaksud meritokrasi diarahkan ke reward khusus bagi yang berkinerja baik, yang mana sudah terjadi.

Seperti program poin 11 paslon no 1 yang fokus ke riset srategis, paslon no 2 langsung menunjukkan spesifik bidang mana yang di sasar. Yaitu bidang yang selama ini memang jadi renstra dan roadmap penelitian di Indonesia yang fokus ke pangan (benih dan perikanan). Bidang yang sebetulnya bisa dipahami mengapa diprioritaskan. Sayangnya agak berpotensi menciptakan kecemburuan bidang lain. Menariknya ada poin yang mengarah ke lingkungan hidup dan pelestarian situs budaya. Jika benar terwujud tentunya akan sangat bagus. Poin kebudayaan ini sempat disinggung Prabowo ketika menyebut akan mendirikan Kementrian Kebudayaan sebagaimana juga disebut Anies di debat terakhir. 

...alamat, bakal berubah lagi nomenklatur Kemendikbudristek dan berpeluang membuat semua kebijakan di bawahnya tersendat.

.......................

Paslon 3: Ganjar dan Mahfud


Progam paslon no 3

Sebenarnya kurang lebih sama dengan Paslon lain yang menyasar kesejahteraan dosen. Bedanya paslon no 3 langsung menyasar sertifikasi dosen dan tunjangan khusus bagi dosen yang berprestasi di poin 4 . Entah apa yang dimaksud penyempurnaan. Apakah mengurangi masa tunggu untuk serdos? Banyak rumor beredar tentang serdos. Katanya begini dan begitu. Yang jelas apa yang disampaikan paslon ini pada dasarnya masih kontinuitas dari pemerintah sekarang dan tentunya butuh merevisi peraturan yang tidak bisa dilakukan dalam waktu sekejap.

Secara spesifik memberi prioritas untuk fakultas kedokteran, yang mana menimbulkan kecemburuan soal keistimewaan yang diperoleh dosen kedokteran di kampus tempatku mburuh ini. Kurasa harus ada keadilan bagi dosen dari fakultas lain yang haknya tidak lantas dianggap lebih rendah dari dosen kedokteran.

Poin C dari 1.2.3 menjanjikan pengangkatan status dosen ke PNS. Yang mana berkaitan dengan poin C soal komersialisasi PTN. Ada rumor bahwa kampus yang berani beralih status ke PTNBH maka dosennya akan dijadikan PNS atas PPPK, demi meringankan pembayaran gajinya. Artinya, program ini hanya kelanjutan dari yang sudah ada. Tidak jelas bagaimana komersialisasi akan dicegah jika ini (uang UKT tinggi) hampir pasti menjadi satu-satunya jalan PTNBH untuk bisa mandiri.

Poin E sama seperti paslon 1 yang menyebut beban administrasi. Beban administrasi memang berlebihan dan ini harus dihentikan demi kesejahteraan mental dosennya. Tapi sekali lagi, ini tidak mudah. Pihak kampus masih lebih punya wewenang menentukan kebijakan daya tampung yang berujung pada berlebihnya beban administrasi dosen.

Poin F ini sama dengan poin 7 paslon no 1. Semoga batas usia meraih beasiswa bisa diperpanjang. Usia tidak seharusnya membatasi kemampuan mencari beasiswa dan menghalangi keinginan memperkaya keilmuan dosen.

Mengenai peran BRIN, paslon 3 sama dengan paslon lainnya. Namun langsung menyasar bidang tertentu yang dianggap strategis: kelautan (maritim), gambut (pertanian/pangan), dan mineral (energi), sesuai dengan renstra pemerintah saat ini.

Program manajemen telenta terdengar seksi. Agak mengingatkan pada nawacita dan revolusi mental di era awal Jokowi, tapi belum terlihat seperti apa implementasinya.

.......................

Postscript/Pendapatku secara umum: 

Pemaparan program disampaikan Paslon 1 lebih sederhana, langsung ke sasaran, dan sepertinya paham masalah walau tidak seluruhnya. Mungkin karena capresnya punya latar akademisi sehingga wajar jika dia tahu mana yang masih kurang dari bidang ini.

Program paslon 2 sangat populis, terlihat dari "menaikkan gaji",  tapi sekaligus langsung tahu bidang mana yang mau disasar: pangan, lingkungan hidup, dan budaya.

Program paslon 3 tampak malu-malu mengatakan bahwa mereka akan melanjutkan dengan cara memperbaiki/menyempurnakan yang sudah dilakukan pemerintah saat ini, sembari menyembunyikan watak populisnya.

Pendapatku bisa jadi sangat bias karena saat ini bernaung (baca: macul wakul) di kampus yang tergila-gila mencapai target yang sebetulnya kontra-produktif yaitu pencapaian IKU. Aku lihat tidak ada paslon yang bahas ini. Mungkin mereka tidak up to date dengan IKU apalagi familiar. Selama kampus masih sangat otonom, apalagi dengan embel-embel hebat semacam PTNBH, selama itu juga dosen akan jadi objek yang dipasung oleh pimpinan kampus. Begitu juga dengan Kampus Merdeka Merdeka Belajar (MBKM) yang sangat layak dipertanyakan hasilnya ini, apakah para paslon akan meneruskan atau tidak? Juga lupus dari pembahasan, bahkan pantauan mereka.










Meskipun Terik, Nusa Penida Memang Menarik

Sudah lama aku mendengar tentang Nusa Penida, sebuah pulau yang katanya gersang dan puanas. Sebuah pulau yang menurut seorang teman yang asli Bali, "tidak ada-apa di sana" selain batu kapur dan penangkaran penyu, sehingga tidak worthy untuk dikunjungi.

Namun, akhirnya kesempatan menyambangi pulau kecil di sisi tenggara pulau Bali ini pada Desember 2023 kesampaian juga bareng rekan kerja se-Prodi. Entah siapa yang usul, pastilah dia pernah melihat postingan keindahan Nusa Penida di medsos. Paket perjalanan untuk Nusa Penida sisi barat langsung dipesan, seorangnya seharga Rp400an, termasuk tiket kapal bolak-balik, makan sekali, dan dua buah mobil plus sopirnya yang merangkap pemandu.

Pelabuhan Sanur pagi hari

Pagi-pagi sekali kami sudah dijemput dari hotel di daerah Seminyak (iya, harga termasuk penjemputan dari hotel). Karena terlalu pagi ini pula kami belum sempat menikmati sarapan hotel secara sepantasnya. Oleh pihak hotel kami dibungkuskan sesuatu yang kami sangka nasi dan lauk pauknya, tapi ternyata...

sandwich isi timun, tomat, dan telur plus buah

Pelabuhan Sanur, titik berangkat dari Pulau Bali ke Pulau Nusa Penida sangat padat pagi itu. Rombongan kami menunggu cukup lama. Telinga ini harus awas menyimak pengumuman dari pemandu yang bisa sangat acak itu. Mereka mengumumkan travel mana yang bisa berangkat sesuai dengan kalung penanda travel yang tadi sudah diberikan sejak awal begitu sampai (warna lanyar juga berpengaruh), karena titik tujuan juga bisa berbeda. 

Pihak travel membagikan semacam tiket yang memuat nama. Dapat nama yang random juga. Intinya nama ini tidak berpengaruh wong duduknya di kapal juga tidak pakai nomor. Kami gunakan nama ini buat guyonan. 

Alur masuk ke pelabuhan sangat aneh. Masuk antri, naik tangga ke lantai 2, lalu turun tangga lagi ke lantai dasar. 

Kalau sudah sampai dermaga tinggal ikuti arus dan pastikan tidak salah naik kapal

Di Dermaga ada banyak kapal. Tidak perlu khawatir salah naik karena nama kapal sesuai dengan kartu lanyar yang tadi dibagikan.

Ombak besar menuju Nusa Penida

Ketika kapal berangkat dari Sanur terjadi pemandangan yang bagiku sangat menakjubkan. Sekian banyak kapal keluar dari pelabuhan, beriringan, lalu berpisah ke tujuan masing-masing. Ombak memang besar tapi masih kalah besar dengan ombak sore hari ketika kami kembali ke Sanur dari Nusa Penida. Durasi berangkat lebih dari 1 jam padahal konon hanya 45 menit. Aku sempat tertidur karena tadi menenggak seperempat butir Antimo, maklum aku takut mabok laut. Menurut seorang rekan mereka sempat melihat lumba-lumba bermain di sekitar kapal. Mungkin seharusnya aku tidak tertidur.


Sampai di Nusa Penida (sisi timur Sampalan)

Pelabuhan Sampalan yang ternyata lokasinya cukup jauh dari lokasi wisata di Nusa Penida Barat

Kami disambut dua orang pemandu yang sekaligus sopir, mereka berasal dari Jawa Tengah. Kami menyapa mereka dengan "Bli" tapi ternyata mereka bisa bahasa Jawa, jadi kami panggil "Mas". Mobilnya APV. Bisa kubilang mereka jago nyetir. Jalanan di Nusa Penida cukup mulus (kecuali ketika mendekati Angel's Billabong), hanya saja jalannya boleh dikatakan cukup ekstrim, naik turun, belak-belok, sempit, mengingatkan pada kondisi jalan di Gunung Kidul, Jogja. Berhubung aku dapat rombongan yang isinya cowok semua jadilah ujung-ujungnya pembicaraan agak cabul ketika mereka kemudian secara terbuka bercerita telah beberapa kali mengencani (baca: meniduri) turis dari luar (Eropa, Afrika, maupun Asia).

Seperti sudah kusebut, kami cuma sarapan sandwich. Sehingga kami menuntut mampir makan dulu, jauh sebelum jamnya makan siang. Mobil berhenti di sebuah rumah makan (warung) kecil di tepi jalan yang memang menjadi bagian dari paket perjalanan. Menunya sederhana. Harganya? Tidak tahu. Namanya juga paketan. Tapi tempatnya lumayan nyaman. Sejujurnya rasa lapar mengalahkan minat kami untuk menjelajahi pulau itu. Ketika itu aku ingin sekali balik ke hotel untuk sekadar rebahan, karena belum-belum sudah merasa capek dan kegerahan. Plus kelaparan itu tadi.

Mampir di Warung

Mie nyemek seadanya, no expectation. Tetap bersyukur yang penting gak kelaparan.

Tapi tentu saja perjalanan harus berlanjut setelah beberapa kali Mas-Mas Sopir menglakson kami agar lekas bergegas...ke pantai Kelingking.

Jalan turun ke tebing Kelingking

Pantai Kelingking di bawah sana. Kelihatan overexposure? Iya, itu sudah siang. Pas jam 12 siang. Ketika Nusa Penida sedang terik-teriknya. Bisa sih kalau mau turun (1 jam jalan kaki katanya) tapi pemandunya bilang pernah ada yang mati gegara kepanasan.

Duduk-duduk di sebuah warung. Hati-hati, harga minuman/makanan bisa sangat mahal. Aku cuma duduk-duduk saja. 

Dari Pantai Kelingking kami meluncur ke Angel's Billabong dan Broken Beach yang jadi satu kawasan. Jalan menjelang ke lokasi rusak parah. Mobilnya berasa dipmbang-ambing ayun-ayunkan dengan perlahan...

Jalan menurun ke Angel's Billabong. Beberapa rekan sudah menyerah, tidak mau meneruskan. Sungguh sebuah kerugian.

Papan peringatan bahwa lokasi ini berbahaya

Billabong yang mengingatkan seperti kolam di Pantai Wediombo yang juga berbahaya

Dari sini, kedua pemandu mengarahkan kami ke Broken Beach yang memang istimewa...tidak, bukan hanya memang istimewa, tapi sangat istimewa dan ikonik, selain Pantai Kelingking tentunya.

Ada beberapa titik yang layak difoto termasuk di sini

Pantainya tidak bisa diakses, hanya bisa dikagumi dari atas tebing

Mulut pantai yang "broken"

Tumpukan sampah yang ditinggalkan makhluk sampah yang tidak menghargai lingkungan dan keindahan alam

Foto bareng di hadapan Broken Beach

Setelah beristirahat selanjutnya kami balik ke pelabuhan dengan terlebih dulu mampir di pantai Bubu yang menghadap langsung ke Pulau Bali...

Tepi jalan Bubu Beach

Pemandangan pantai yang tenang. Bisa dibayangkan keindahan tempat ini jika malam. Kerlip lampu di Pulau Bali pastilah memukau.

Entah kenapa ada ayunan di situ. Btw, ini sudah jam 15.

Setelah hanya duduk-duduk dan bermain air laut sejenak, saatnya kami berpisah dengan Nusa Penida yang walau memang terik namun memikat dan pastinya cantik.  

Keramaian pelabuhan Sampalan saat sore

Akankah aku balik ke sana lagi? Mungkin suatu saat nanti. Semoga jalannya sudah lebih baik kondisinya.




 
















Cara Kuno Promosi Kampus

Tersebutlah sebuah kampus yang sudah berstatus negeri di sebuah kota di Jawa Timur. Kampus ini telah beroleh akreditasi A  dari BANPT, sudah BLU juga, tahun ini akan maju ke PTNBH. Tapi dikarenakan target mahasiswa barunya tidak tercapai, maka dititahkanlah oleh pimpinannya bahwa cara untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan berkeliling provinsi mendatangi sekolah demi sekolah, berpromosi door to door. Yep, just like old times, those classic times. From the era before internet.

Kalau itu belum cukup terdengar megah (megahi?). Kamu harus tahu, siapa yang ditugaskan untuk berkeliling itu. Nope, bukan mahasiswa, no, bukan influencer, melainkan para dosennya! Para pejabat struktural mulai dekan, hingga Kaprodi, termasuk Kalab juga dilibatkan.

Postingan di Instagram yang dengan bangganya menyebut beberapa kabupaten yang dikunjungi

Desember lalu rencana ini digulirkan secara mendadak (ya, tentu saja, apa sih yang tidak mendadak di kampus ini?). Sedianya kami akan diberangkatkan pada akhir Desember sebelum Tahun Baru 2024. Namun secara mendadak pula rencana dibatalkan. Alasannya ketidaksiapan sekolah yang akan dikunjungi. 

Nyatanya berdasar cerita singkat dari dua rekan kerja yang baru saja ditugaskan melakukan promosi selama 3 hari ke Madiun, sekolah yang dituju juga belum siap, atau lebih tepatnya tim yang datang ke sana bagaikan 'menodong' untuk minta waktu supaya bisa promosi. Jadi SMA dan MA yang didatangi itu belum diminta kesediaannya untuk menerima rombongan promosi, Bung. Kenapa begitu? Konon tim penanggung jawab yang tidak bertanggung jawab itu tidak punya atau tidak menemukan nomor kontak dari sekolah yang dituju. Terdengar konyol? Tapi ya itu sungguhan terjadi. Di era di mana data pribadi malah sengaja diumbar, mereka tidak bisa mendapatkan nomor kontak dari sekolah yang disasar. Can you belive it?

Jadwal roadshow di Madiun (perhatikan yang ditandai kuning). Yang ditandai kuning artinya belum konfirmasi bahwa mereka bisa menerima rombongan

Jadilah rekan kerja ini disenga'i oleh pihak sekolah yang merasa, "kok, tahu-tahu kalian datang tanpa undangan dan ingin kami menyediakan waktu buat kalian promosi?". 

Menurutku adalah amat sangat wajar jika mereka bersikap demikian. Kita juga akan begitu bukan, jika ada orang tidak dikenal tahu-tahu datang ke rumah lantas menyampaikan hajatnya? Tentunya (untungnya?) tidak semuanya. Ada juga yang menyambut baik kedatangan tim promosi yang cuma menjalankan tugas kampus ini.

Komentar dari salah satu dosen pada postingan di atas 

Menurut rekan kerjaku ini ada sejumlah pihak sekolah yang didatangi keheranan. Di antaranya sebagai berikut: 

"Kenapa yang datang harus dosennya? Kenapa bukan mahasiswanya."


"Kenapa kampus negeri melakukan promosi seperti ini, seperti kampus masih swasta saja."


"Kenapa yang didatangi malah SMK yang lulusannya diproyeksikan langsung bekerja?"


Terhadap pertanyaan itu, rekan kerjaku ini cuma bisa menjawab normatif. Pada intinya dia, kami semua (aku juga ditugaskan untuk berangkat promosi) hanya menjalankan tugas. Apalah daya kami sebagai bawahan yang mungkin sulit didengar oleh para pimpinan yang konon cerdas dan tahu betul apa yang terbaik buat kampusnya.

...

Catatan akhir:


Kami sesama dosen sempat berdiskusi dan sepakat bahwa promosi klasik seperti ini sudah bukan lagi cara yang tepat di era saat ini. Karena pasti tidak menarik dan tidak menggugah keinginan calon mahasiswa baru untuk berkuliah. 

Para pimpinan seyogyanya mau bercermin dan mengevaluasi diri, apa penyebab turunnya minat camaba mendaftar di kampus ini? Barangkali ada banyak kabar yang bertebaran di luar sana yang bernada negatif yang membuat camaba urung niat ke sini.

Dana yang pastinya tidak sedikit itu bisa digunakan untuk berpromosi dengan cara yang lebih efektif.

 Daripada mengirim dosen ke Lamongan, Gresik, Jombang, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, Ngawi, dst. (karena touring ini belum berakhir, masih ada kabupaten di sisi timur dan masih ada Madura), lebih baik uangnya digunakan bayar influencer untuk bikin konten kreatif yang mempromosikan kampus. Apalagi memang ada influencer dan youtuber sukses yang jadi mahasiswa di kampus ini. Yang bisa dilakukan selanjutnya adalah menghelat lomba tingkat nasional untuk siswa SMA atau yang sederajat, di mana finalnya diadakan di area kampus, hadiahnya adalah gratis UKT atau beasiswa. 

Tapi apalah daya kami, kami cuma keset. Entah apa yang dilakukan orang-orang penting dan ngerasa sok penting di sekitaran para pimpinan itu, orang-orang yang rela jadi keleknya pimpinan. Apa-apa pasti diiyain. YES BOSS! Mental-mental yes boss masih saja diberi ruang di dalam kampus.


Kecurangan Nilai Wawancara dan Microteaching PPPK

Di Indonesia, kecurangan pewawancara dalam memberi nilai CPNS dan Calon PPPK dosen pada saat tes microteaching dan wawancara masih dianggap biasa dan masih terjadi. Ingat ketika itu pernah menyebar twit seorang pengguna yang ditikung di akhir di tahap wawancara? Kali ini terjadi kepadaku.

Screenshot twit @alhrkn. Sumber: https://twitter.com/alhrkn/status/1474925007297921026

Aku melamar posisi PPPK formasi khusus di sebuah kampus di sebuah kota besar di Jawa Timur yang memang aku bekerja di sana sejak 2020. Formasi khusus artinya memang ditujukan buat yang belum berstatus ASN. Formasi ini hanya dibuka untuk satu orang tapi ada tiga orang yang berstatus pegawai tetap termasuk aku. Iya, kami semua ordal.

Mumpung kesempatannya ada ya aku coba. Apalagi Rektor sudah bertitah bahwa semua yang masih Non-ASN harus jadi ASN, entah lewat CPNS ataupun CPPPK. Kenapa? Karena kami semua dianggap membebani keuangan kampus apalagi ketika nanti berstatus PTNBH. Sekadar informasi, formasi pendidikan yang diminta memang tidak sesuai dengan latar S-2 ku. Tapi nyatanya toh lolos administratif. Begitu juga dua rekan kerjaku yang latar pendidikannya juga sama-sama tidak sesuai.

Kudengar ada dosen dari luar kampus yang coba daftar tapi dia gagal karena salah satu syaratnya adalah punya surat keterangan bekerja di kampus tersebut yang ditandatangani pejabat/atasan. Orang ini penting untuk kusebut karena ada hubungannya (nanti balik lagi ke sini).

Untuk mempersiapkan diri, aku sampai beli dua buku tentang PPPK guru dan dosen (online). Aku belajar sungguhan dan aku tekuni sampai larut malam di tengah kesibukan, juga menyimak video di YouTube yang sebetulnya tidak cukup membantu. Sebagai informasi, tesnya berbeda dengan CPNS. Terdiri dari teknis, manajerial, sosial kultural, & wawancara. Ada juga soal penalaran.

Ketika menjalani SKD PPPK online di sebuah kampus, aku terkejut ternyata ada soal bahasa Inggris (di buku yang dibeli tidak ada sama sekali menyebut soal bahasa Inggris). Meski begitu aku masih bisa menjawabnya (skor 75, cukup baik).  Total nilai yang bisa kuraih adalah 489.

Dua rekan dosen lain, skornya 461 dan 350. Artinya posisiku adalah nomor satu. Katanya ada passing grade tapi ternyata tidak berlaku/tidak menggugurkan bagi pelamar formasi khusus. Di sini sudah terlihat bahwa posisi ini memang untuk mengakomodasi ordal.

Pengumuman jadwal wawancara dan microteaching

Menjelang tanggal tes microteaching dan wawancara tersebar perkiraan siapa yang akan mewawancarai kami, yaitu wadek 2 & 3 fakultas tempat kami kerja. Sebagian rekan kerja lain yang sudah lama kerja di situ (sudah ASN)  mulai menduga bakal ada main mata antara pewawancara dengan salah seorang pesaing. Pasalnya wadek 3 adalah teman baik salah seorang pesaingku yang total nilainya 461 (posisi kedua). Tapi aku tetap berpikir positif dan mengabaikan kecurigaan rekan-rekan kerja.

Saat selesai wawancara online, hasilnya bisa langsung dilihat di livescore (yang hanya bertahan sehari saja). Ternyata nilaiku 'hanya' 21,5. Sementara pesaingku mendapatkan 25, yang mana adalah nilai maksimal. Rekan-rekan kerja lain menyemangatiku agar saat microteaching nanti pakai bahasa Inggris.

Ya sudah, tidak ada salahnya. Sekurangnya slide materi microteaching dalam bahasa Inggris. Bisa bantu IKU. Aku siapkan materi sederhana dengan alat peraga offline maupun online. Hasilnya, nilaiku 'hanya' 20,5, pesaingku lagi-lagi dapat nilai maksimal, 25. Nilai milikku bahkan masih di bawah nilai rekan lain yang ikut tes CPNS tahun ini.  Bohong jika aku mengatakan itu tidak ada pengaruhnya, tentu aku sempat merasa minder, 'apa memang sepayah itukah ngajarku?' Tapi ya berusaha tetap optimis.

Tanggal 24 Des, pengumuman PPPK 2033 itu terbit.  Namaku jadi urutan kedua, yang artinya pesaingku inilah yang lolos. Kecewa? Pasti. Marah? Sangat.

screenshot pengumuman akhir PPPK 2023

Angka total yang muncul di pengumuman juga sebetulnya agak aneh. Seperti punya algoritma khusus yang entah dari mana asalnya. Aku tidak tahu dari mana nilai "teknik" dan "murni" berasal. Kalau nilai Sosio, Manajerial, Wawancara itu memang benar nilai yang kuperoleh seusai SKD. Mungkinkah memang ada hitungan spesial berdasarkan jabatan fungsional dan lama masa kerja?

Jika memang iya, pesaingku ini memang lebih lama mengajar di situ dan jabatan fungsionalnya lebih tinggi daripada aku yang cuma AA.

Tapi... pesaingku lainnya yang nilai SKD PPPK nya 350 (posisi tiga) jauh lebih lama ngajarnya di situ. Jika memang urut kacang kenapa tidak dia saja yang dinaikkan, sisanya dijatuhkan?

Jika memang ada hitungan khusus, mengapa pula nilaiku mesti dipangkas dan pesaingku yang sudah kalah nilai SKDnya justru dimaksimalkan? Jika memang ada hitungan khusus mengapa tidak diterakan di awal sehingga bisa diawasi dan transparan.

Sebagai informasi, pesaingku ini pada bukaan CPNS tahun lalu juga dibantu nilai wawancara dan microteachingnya oleh dua pewawancara yang sama (saat itu dia belum menjabat sebagai Wadek 3, dia hanya dosen biasa). Nilainya 98! Sementara pesaingnya hanya 68! Tahun lalu adalah batas umurnya untuk bisa melamar CPNS.

Sayangnya dia tidak lolos passing grade SKB bahasa Inggris. Itu makanya dia gagal jadi PNS dan itu sebabnya dia ikutan PPPK tahun ini.

Alhasil pelamar yang nilainya sudah dijatuhkan sampai ke angka 68 itulah yang lolos dan jadi PNS. Ironisnya jadi rekan kerja kami yang paling andal.

Ingat tadi ada dosen luar kampus yang mencoba melamar posisi ini? Dia adalah suami dari pesaing yang akhirnya lolos PPPK ini. Lucu ya?

Kurasa aku ingin menemui kedua pewawancara yang notabene atasanku itu lalu mempertanyakan alasan nilaiku sampai sejatuh itu, semacam konfirmasi. Yang mana mendorongku untuk curiga bahwa mereka sudah tahu cara hitung hitungannya sehingga nilaiku sengaja dibuat nanggung sedangkan pesaingku sebaliknya: ngepoll.

Sampai itu terjadi, untuk sementara ini aku bisa simpulkan: jadi ordal tidak cukup kalau pesaingmu adalah adalah ordal yang posisinya lebih tinggi/dekat dengan pewawancara. Di atas ordal masih ada ordal lain.

Btw, kehebohan tes microteaching dan wawancara CPNS tahun lalu itulah agaknya yang mendorong pengubahan urutan tes. Di mana tahun ini SKB baru dilaksanakan sesudah wawancara dan microteaching.

Aku pun jadi bertanya-tanya, kira-kira gimana perasaan pesaingku itu, dia lolos PPPK gara-gara dibantu temannya. Apa gak bakal merasa utang budi selamanya? Aku pun juga bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiran pewawancara, pembenaran apa yang ada di benak mereka ketika melakukan itu? Tidakkah barokah posisi jabatan/status PPPK-nya yang mana menurun ke keberkahan penghasilnnya? Bahwa dia mendapatkan penghasilan secara tidak langsung dari mencurangi orang lain. Tidakkah takut akan tertimpa 'hidayah' yang bisa datang dalam bentuk apapun dan kapanpun tanpa mereka sadari?

"Sudah biasa, dari dulu juga begitu.' Abuse power sudah biasa. 

sempet curhat di twitter, tapi tentunya tidak akan pernah bisa viral 😶.





 


Industri Komik Indonesia 1960-an: Menyimak Serial Komik Silat Jaka Sembung Karya Djair

Tulisan berikut bermula dari bab yang dipangkas dari Tesis berjudul "Mitos Pendekar Jaka Sembung dalam Komik Pendekar Jaka Sembung (1969) Karya Djair" yang diuji pada sidang akhir Prodi Kajian Budaya dan Media tahun 2018. Tesis tersebut dapat dibaca di Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UGM (kurasa). Repository ada di sini

Bab yang membicarakan latar atau konteks dunia komik pada tahun 1960-an ini belum sempat dipublikasikan. Aku lantas mengirimnya ke ajang ComSequence: Comic and Sequential Art Festival 2022 untuk diikutsertakan dalam buku bunga rampai "Menilik Komik Indonesia". Setelah berbulan-bulan, buku ini akhirnya terbit juga (April 2023). Sayangnya buku ini tidak dicetak. 

ComSequence: Comic and Sequential Art Festival 2022 adalah format baru festival komik yang diselenggarakan oleh prodi DKV, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta (dulu bernama FKN-Festival Komik Nasional) yang digelar pertama kalinya pada tahun 2012 di Jogja Nasional Museum. ComSequence diperluas jangkauannya pada level Asia Tenggara (mungkin bisalah dianggap tingkat internasional).

Berikut adalah ringkasan artikelnya:

Sejak terbitnya Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH pada 1967 bermunculanlah gelombang komik silat di Indonesia. Salah satu yang cukup tenar adalah serial Jaka Sembung karya Djair, yang serial utamanya terbit dari 1968-1977 mengisahkan perjuangan seorang pemuda bernama Parmin alias Jaka Sembung mempersatukan para pendekar Nusantara, bahkan sampai Selandia Baru untuk melawan para pendekar jahat dan tentu saja untuk mengusir Kompeni Belanda dari “Indonesia”. Dia bukan saja diceritakan sebagai keturunan bangsawan Keraton Kanoman Cirebon tapi juga berhadapan dengan tokoh nyata seperti Sultan Agung. Dengan jalinan kisah yang mengesankan bahwa dia pernah benar-benar hidup ini—terlepas  dari narasinya yang terdengar spektakuler—wajar jika ada sebagian kalangan yang menganggap Jaka Sembung sebagai tokoh sejarah.

Cover perdana serial Jaka Sembung yang bahkan tidak memuat nama karakter utama (Djair, 1968) 

Dikenal sebagai satu dari maestro komik silat Indonesia, Djair, anak kedua dari tujuh bersaudara dilahirkan pada 13 Mei 1945 di kampung Karangtengah, Kebarepan, sebelah barat kota Cirebon. Wafat pada 27 September 2016, dia mewariskan serial komik silat Jaka Sembung. Begitu lekatnya Djair dengan Jaka Sembung. Tidak mengherankan bila dia menciptakan satu universe yang di dalamnya sejumlah karakter komik ciptaannya saling bertalian. Misalnya Si Tolol (serial Si Tolol) yang tak lain murid spiritual Parmin, serial Malaikat Bayangan yang menceritakan petualangan keempat anak asuh Parmin: Kinong, Kartaran, Pe’i, dan Thomas, dan komik Pekutukan yang menceritakan kisah Muhammad Ilham, seorang santri keturunan Parmin.

Sebagai pendekar yang diceritakan hidup pada latar waktu tertentu di Nusantara, tidak diceritakan tepatnya Parmin lahir, yang jelas dia hidup di zaman Kompeni. Djair baru menjelaskan mengenai latar belakang Parmin secara detail di komik Tahta Para Bangsawan (1994), yang terbit jauh sesudah serial Jaka Sembung berakhir di Wali Kesepuluh (1977). Komik Tahta Para Bangsawan sendiri berperan bak prekuel sekaligus reboot (memulai ulang) naratif Jaka Sembung yang sudah ada sebelumnya, karena di saat beberapa bagian ceritanya seolah mengisi apa yang belum disampaikan secara detail sebelumnya, namun komik ini juga membatalkan dan sekaligus mengacaukan nalar waktu serial komik terbitan 1968-1977.

Komik Tahta Para Bangsawan secara garis besar berkisah mengenai awal pertemuan Ki Sapu Angin yang menolong Elang Sutawinata sekeluarga dari sergapan anak buah perampok Gembong Wungu. Elang Sutawinata adalah ayah Parmin, dia bangsawan Keraton Kanoman Cirebon yang mengundurkan diri setelah berselisih pendapat dengan dua saudara tirinya yang menjadi sultan karena mereka rela tunduk kepada Belanda. Ki Sapu Angin kemudian meminta Sutawinata memasrahkan Parmin cilik kepadanya untuk dididik sebagai pendekar. Proses latihan berat menjadi pendekar dijalani Parmin hingga dewasa dan berakhir dengan dilepasnya Parmin untuk bertualang (yang mana menjadi permulaan komik Bajing Ireng).

Parmin cilik yang diminta oleh Ki Sapu Angin untuk dididik. Diambil dari Pendekar Gunung Sembung (1969)

Komik tersebut menyebut Parmin lahir pada 1602, bertepatan dengan berdirinya VOC. Penyebutan spesifik ini mengacaukan lini waktu serial komik awal. Kasultanan Cirebon baru terpecah menjadi tiga pada 1679, menjadi kasultanan Kasepuhan, Kanoman, dan Panembahan Cirebon. Dengan data ini ketika ayahnya diusir dari keraton Kanoman Cirebon, paling tidak Parmin berusia 70 tahun. Sehingga tidak masuk akal rasanya jika Parmin lahir pada 1602.

Adegan yang sama di komik Tahta Para Bangsawan (1994)

Berbicara mengenai kualitas gambar Djair, diakui sendiri olehnya memang tidak sebaik komikus lain (Kurnia, 2014). Tapi lebih tepat kiranya disebut tidak konsisten. Dalam Bajing Ireng (1968), tokoh Parmin tampak seolah digambar oleh orang yang berbeda jika dibandingkan dengan goresan gambarnya di komik Pendekar Gunung Sembung (1969). Padahal pembuatan kedua komik hanya terpaut satu tahun. Belum lagi jika membandingkan komik-komik karya Djair 1970-an dan akhir 1980-an, tidak menyertakan pula komik terakhirnya Jaka Sembung vs. Si Buta dari Gua Hantu (2010) yang bukan hanya dari segi penuturan kisah, secara kualitas jauh menurun. Besar kemungkinan ini disebabkan oleh, Pertama, Djair, sebagai komikus otodidak yang pada awal karirnya masih dalam proses mengadaptasi gaya gambar komikus lain, dan Kedua, industri komik itu sendiri yang membuat gambar Djair semakin tidak rapi.


Dari kiri atas searah jarum jam: Bajing Ireng (1968), Pendekar Gunung Sembung (1969), Wali Kesepuluh (1977) dan Papua (1972)


Adalah hal lazim pula ketika pengarang menyisipkan pesan filsafat dan pesan keagamaan (Bonneff, 2008-116). Tidak menutup kemungkinan situasi Indonesia tahun 1970an atau malah sebelum itu, di mana pengamalan agama menjadi umum setelah komunisme disinonimkan dengan ateisme, ikut berperan membentuk serial Jaka Sembung menjadi kental dengan pesan keagamaan. Bonneff (2008:42-44) tidak secara tegas menyinggung dampak peristiwa 1965 pada komik, selain dari kemunculan demonstran yang memasuki toko buku untuk menyita buku-buku murahan yang dinilai melanggar moral. Insiden yang mendorong dibentuknya Seksi Bina Budaya yang menjadi bagian dari Kepolisian Indonesia dengan salah satu tugasnya adalah untuk mengawasi peredaran komik. Badan pengawasan ini mungkin punya andil terhadap keinginan komikus dan penerbit sendiri untuk bertekad “membina kebudayaan bangsa”. Salah satunya dimaknai oleh para komikus lewat pesan-pesan filsafat dalam komik.

Komik Jaka Sembung penuh nasehat dan petuah

Berlawanan dengan konstruksi moralitas tersebut. Muncul unsur yang disebut Atmowiloto (2012) sebagai “bumbu telanjang.” Ketelanjangan atau pornografi ini walau tidak dominan juga hadir dalam komik silat, tidak terkecuali serial Jaka Sembung. Bisa jadi memang ada kaitan antara konten pornografi dalam komik silat dengan pembaca komik silat yang menurut Bonneff (2008:91) didominasi remaja lelaki. Tetapi menariknya sistem penerbitan komik di Indonesia yang sejak 1967 melibatkan aparat kepolisian ternyata punya andil membiarkan pornografi dan sadisme menyebar dalam komik, antara lain karena acuan penilaiannya yang berupa Pancasila diterapkan secara sederhana dan luwes. Definisi pornografi kian melonggar karena pihak kepolisian meyakini apresiasi masyarakat berubah dan moralitas juga berkembang. Asalkan tidak berlebihan gambar bermuatan pornografi diizinkan dengan cara mengarsir adegan atau menutupi bagian tubuh yang terlarang (Bonneff, 2008:75-77). Dengan demikian dapatlah dibaca bahwa ketelanjangan dalam serial komik silat Jaka Sembung dan secara umum komik lainnya tidak bisa melepaskan diri dari ideologi kapitalisme, yang bertujuan agar komik laku di pasaran

Ketelanjangan dan tema seksual yang disamarkan. Ini ketika karakter bernama Tirta digoda oleh seorang perempuan pimpinan rampok Lalawa Hideung

Anakronisme sejarah, gaya berkomik yang sarat kata-kata bermuatan moral, dan kualitas gambar tidak konsisten dari Djair adalah akibat tekanan pelaku industri komik yang tidak memungkinkan dia melakukan riset mendalam mengenai topik tertentu dan sekaligus menunjukkan hubungan kuasa yang tidak seimbang antara komikus, industri komik, pembaca pada satu sisi dengan penentang komik (lewat lembaga tidak resmi seperti Opterma atau Operasi Tertib Remadja yang diperbantukan di seksi khusus kepolisian) dan Pemerintah di sisi lain.

Baca artikel lengkapnya beserta Daftar Pustaka di sini.  


Dosen kok Suruh Ngurus Absensi

Adalah sebuah pengetahuan umum, tugas dosen adalah melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan/pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Satu lagi disebut penunjang yang berkutat biasanya pada kepanitiaan yang sudah pasti tidak bisa terhindar darinya.

Yang mengherankan di kampus tempatku 'macul wakul' ini, para dosen masih disuruh presensi dua kali: pagi (masuk) dan sore (pulang). Presensi ini digunakan sebagai patokan seberapa besar uang makan/minum (mamin) harian yang diperoleh dosen. Seharinya sekira Rp37ribu (disetarakan dengan PNS, walau tidak berstatus PNS--untuk ini aku bersyukur). Tapi belakangan presensi semakin diketatkan. Jika melebih jam masuk yang 7:30 ini maka secara otomatis, dosen tersebut tidak akan mendapatkan uang mamin (gaji dosen tanpa adanya uang mamin bakal di bawah UMR). Sambil di sisi lain, luaran Tridharma juga masih dituntut. Dosen yang notabene garda terdepan Perguruan Tinggi disuruh tertib masuk-keluar. Jika ingin berkegiaran di luar, maka wajib mengurus/mengajukan Surat Tugas (ST) dan Surat Perjalanan Dinas (SPD).

Masalahnya pengurusan ST dan SPD adalah hal yang sangat administratif dan birokratif dan juga kerap berubah-ubah semaunya para pejabat Dekanat. Alurnya seolah sengaja dibuat rumit. Seolah kami ini--para dosen--gemar berdusta soal kegiatan Tridharmanya. Misalnya: kegiatan yang diajukan tidak boleh melebihi bulan di mana kegiatan tersebut dilaksanakan, dengan alasan nomor ST terbatas. Padahal kalau kegiatan dosen ada banyak, fakultas ikut diuntungkan karena pasti remunerasi para pejabatnya bakal ikutan meroket (lucunya/ajaibnya ST seakan-akan turun jauh di tanggal sebelum ST diajukan. Misalnya kami mengajukan kegiatan pengabdian masyarakat pada 10 September, maka nanti ST (paling cepat) baru kami terima pada 20 September namun bertanggal 31 Agustus).

Nah, sambatan ku kali ini berkaitan dengan hal-hal di atas.   

Alkisruh pada pekan keempat Agustus 2023, para dosen PNS di kampus ini mendapat surat teguran tentang alpha/mangkir kerja. Yang mengejutkan beberapa nama bisa dianggap alpha hingga mencapai >100 hari. Para dosen yang disurati diminta mengisi surat pernyataan menerima/tidak menerima temuan ini dan jika menerima maka harus mau diberi sanksi: teguran, pemotongan tunjangan, sampai pemecatan. Untuk mencegah itu terjadi maka dosen-dosen yang disebut namanya harus menyediakan bukti-bukti berupa ST dan SPD di hari-hari ybs. dihitung alpha. Tentu saja ini bikin dosen-dosen satu kampus gerah, heboh, dan panas.  

Daftar nama dosen PNS yang dituduh alpha 

Yang memanggil adalah Satuan Pengawas Internal (SPI) kampus kepada dosen-dosen yang lucunya beberapa nama anggotanya masuk juga di dalam daftar "merah" ini. Di mana awalnya ada temuan dari Irjen mengenai ketidaksinkronan antara ajuan uang mamin ke Pusat dengan rekap kehadiran dosen. Rumornya ajuan mamin dari kampus selalu full 100%, tapi kemudian Irjen mempertanyakan sistem masuk dosen, yang mana lantas ditunjukkanlah peraturan masuk-keluar dua kali pagi-sore, yang ketika ditelusuri ada banyak "kebolongan" pada presensi dosen, yang sebenarnya awalnya sudah dipertanyakan oleh Irjen: "ini dosen-dosen sama sekali tidak pernah ada dinas, kah? kok ajuan mamin selalu penuh?" Dan terjadilah peristiwa pemanggilan terhadap nama-nama dosen sekampus untuk mempersiapkan bukti atau siap menerima sanksi.

Setelah ditelisik lagi. Jumlah alpha bisa sedemikian besar adalah karena: 1) bagian Tata Usaha (TU) di masing-masing fakultas tidak pernah mengoreksi ke-alpha-an dosen menjadi "D" (dinas) ketika dosennya memang sedang berdinas keluar kampus (penelitian atau pengabdian masyarakat). Sementara konyolnya adalah seluruh ST dan SPD yang mengeluarkan ya mana lagi jika bukan TU sendiri. Dan 2) beberapa nama dosen PNS yang dicantumkan di situ dihitung masuk mulai awal Januari 2022 (rekrutan CPNS 2021), di saat sebetulnya TMT (Terhitung Mulai Tanggal) masuknya adalah Maret 2022. Sehingga coba dihitung saja seandainya setiap bulan, mulai Januari-Februari harusnya masuk ya ketemu paling tidak: 40 hari kerja yang konyolnya kan tidak digaji juga. Entah keteledoran dari mana pihak mana data seperti ini bisa luput dari penghitungan.

Yang disayangkan adalah, mengapa data yang masih mentah tersebut dilaporkan begitu saja ke Pusat tanpa dilakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan para dosen yang namanya disebut/dianggap mbalelo? SPI seharusnya menjadi benteng terakhir dari kinerja kampus (terutama dosennya sendiri) di saat pihak Dekanat juga tampak sibuk cuci tangan sendiri dan membela pihak TU yang sangat pasif, tidak ikut membela dosen-dosen yang sudah bekerja demi kocek remunerasi mereka yang besarannya mencapai dua digit itu. Mereka malah asyik menjejalkan peraturan-peraturan PNS serta sanksi-sanksi yang menanti.

Pertanyaannya, mau sampai kapan ini dibiarkan berlangsung?!!